Dalam strategi komunikasi modern, publik semakin skeptis terhadap pesan yang terlalu bersifat promosi.

Oleh karena itu, banyak brand kini beralih memaksimalkan earned media sebagai cara membangun kepercayaan publik secara lebih alami.

Melalui artikel ini, RadVoice Indonesia akan membahas apa itu earned media, mengapa penting bagi brand, serta berbagai contoh earned media yang relevan di era digital, termasuk peluang tampil di podcast yang kini semakin diminati.

Apa Itu Earned Media?

Earned media adalah publikasi media yang diperoleh dari penyebutan seputar brand Anda yang dibicarakan secara organik dan sukarela oleh pihak ketiga yang kredibel.

Bentuknya bisa berupa liputan media, ulasan, rekomendasi, hingga percakapan publik di platform digital. Berbeda dengan iklan, earned media hadir karena nilai berita, relevansi isu, atau ketertarikan audiens terhadap cerita yang disampaikan.

Cara ini menjadi strategi pemasaran yang lebih hemat biaya daripada membayar iklan, untuk membantu brand membangun reputasi dan meningkatkan brand awareness.

Dalam praktik public relations (PR), earned media sering dianggap paling bernilai karena memiliki tingkat kredibilitas tinggi.

Ketika brand dibahas oleh media atau kreator secara independen, publik cenderung lebih percaya dibanding pesan yang datang langsung dari brand itu sendiri. Inilah alasan penting earned media dalam strategi reputasi

Namun, menghasilkan earned media tidaklah mudah. Anda atau merek Anda tidak dapat memaksa jurnalis untuk meliput dan juga tidak dapat memaksa orang lain untuk membicarakannya di media sosial. 

Contoh Earned Media

Memahami berbagai contoh earned media membantu brand melihat peluang eksposur yang lebih luas, tidak terbatas pada pemberitaan konvensional. Earned media bisa hadir dalam banyak bentuk, tergantung pada pendekatan komunikasi yang digunakan dan karakter audiens yang ingin dijangkau.

Selain itu, pemahaman tentang jenis earned media juga membantu brand membedakan mana eksposur yang murni editorial dan mana yang bersifat komersial.

Hal ini penting agar strategi komunikasi tetap etis dan tidak menyesatkan publik, terutama jika dibandingkan dengan format berbayar seperti advertorial atau sponsored content.

Baca juga: 5+ Alasan Pentingnya Earned Media

contoh earned media
Earned media bisa hadir dalam banyak bentuk, tergantung pada pendekatan komunikasi yang digunakan dan karakter audiens yang ingin dijangkau. (Foto oleh Freepik.com)

Jenis earned media yang paling umum adalah fitur berita tidak berbayar, fitur produk dari blogger, ulasan positif, atau penyebutan di media sosial.

Sebagai inspirasi, RadVoice Indonesia telah menyusun daftar earned media yang kerap dilakukan beberapa perusahaan.

1. Liputan Media Online dan Cetak

Liputan media adalah contoh earned media paling umum. Brand bisa mendapatkan eksposur melalui siaran pers, berita, feature, atau wawancara yang ditulis berdasarkan nilai berita, bukan pembayaran.

Liputan semacam ini memiliki kredibilitas tinggi karena melalui proses editorial media. Ketika brand Anda disebutkan di koran, majalah, dan media digital, hal ini secara tidak langsung telah meningkatkan brand awareness dan trust yang besar.

Dalam konteks seperti ini, PR harus berperan dengan memanfaatkan berbagai jenis media relations. Selain itu, penting bagi brand memahami jenis media coverage agar dapat menyesuaikan pesan dengan format liputan yang diharapkan, apakah berupa hard news, soft news, atau feature mendalam.

2. Situs Ulasan

Ulasan produk atau layanan oleh jurnalis, kreator, atau pengguna juga termasuk earned media, selama tidak ada pembayaran atau pengaturan komersial di baliknya. Review semacam ini sering kali menjadi rujukan calon konsumen karena dianggap lebih jujur dan apa adanya.

Situs ulasan seperti Duniapedia menghasilkan earned media yang diperoleh secara organik. Begitu pula dengan Shopee dan banyak e-commerce lainnya. Ulasan positif di situs-situs ini adalah salah satu media yang paling berharga.

Untuk menghasilkan lebih banyak ulasan, pastikan untuk memberikan layanan pelanggan yang luar biasa. Anda juga dapat meminta feedback di media sosial melalui email. 

Beberapa perusahaan bahkan menawarkan poin rewards tertentu jika para pelanggan mengulas produk yang dibeli. Namun, brand tetap perlu memastikan bahwa informasi yang tersedia akurat dan mudah diakses agar ulasan yang muncul tidak menyesatkan atau keliru.

3. Social Media Mention

Sebagian besar earned media berasal dari pelanggan yang puas terhadap produk Anda. Biasanya mereka membahas melalui percakapan organik di media sosial, baik berupa mention, diskusi, atau rekomendasi.

Walau skalanya beragam, dampaknya bisa sangat besar jika percakapan tersebut melibatkan figur berpengaruh atau komunitas yang relevan. Meski di sisi lain, Anda tidak dapat mengontrol apa yang diulas orang.

Ketika ada yang menyebutkan brand Anda atau menunjukkan social media mention, jangan lupa untuk me-retweet atau melakukan repost.

Jenis ini sering kali menjadi indikator awal bagaimana publik memandang brand, sebelum isu tersebut berkembang lebih luas ke media arus utama.

4. Tampil di Podcast

Tampil sebagai tamu di podcast kini menjadi salah satu cara yang semakin populer untuk membicarakan brand. Podcast memberikan ruang percakapan yang lebih santai, mendalam, dan personal dibanding wawancara media konvensional.

contoh earned media
Tampil sebagai tamu di podcast kini menjadi salah satu cara yang semakin populer untuk membicarakan brand. (Foto oleh Oatawa/freepik)

Dalam praktik earned media melalui podcast, kualitas percakapan menjadi kunci utama agar pesan brand tidak terdengar seperti iklan terselubung.

Menurut Jurnalis Shindu Alpito dalam panduan penulisan naskah podcast wawancara, narasumber perlu hadir dengan cerita, sudut pandang, dan pengalaman yang relevan dengan audiens, bukan sekadar membawa pesan promosi.

Mengedepankan anggota narasumber yang berpengetahuan luas tentu akan sangat membantu. Banyak brand kosmetik, telah berhasil meningkatkan earned media dengan menunjuk penata rias terbaik mereka yang mampu membuat konten.

Pendekatan ini membuat percakapan terasa lebih autentik, sehingga audiens mendengarkan karena tertarik pada isinya, bukan karena sedang “dipasarkan” sesuatu.

Baca juga: 5+ Tips Menentukan Topik dan Judul Podcast yang Menarik dan Engaging

5. Snippet dari Mesin Pencari

Meskipun SEO secara teknis tidak dihitung sebagai earned media, snippet unggulan Google adalah contoh yang sangat baik. Snippet ini biasanya hadir dalam bentuk paragraf, daftar tabel, video, dan sama seperti earned media lainnya.

Ini terjadi ketika brand atau perwakilannya dikutip dalam artikel, laporan, atau konten editorial lain sebagai referensi. Eksposur semacam ini menunjukkan bahwa brand dianggap memiliki otoritas atau perspektif yang layak dijadikan rujukan.

Tentu saja snippet dapat memperluas jangkauan brand Anda, mendorong traffic website, dan meningkatkan kredibilitas brand Anda. Sayangnya, tidak ada cara untuk memastikan konten Anda akan muncul dalam snippet ini.

Namun, membuat konten berkualitas tinggi yang dioptimalkan akan meningkatkan peluang Anda maupun kinerja SEO Anda secara keseluruhan.

Baca juga: 5+ Cara Meraih Earned Media, Salah Satunya Manfaatkan SEO!

contoh earned media
Snippet unggulan Google adalah contoh yang sangat baik untuk menelusuri media eksposur. Foto oleh Rawpixel.com/freepik

6. Konten UGC Lainnya

Selain ulasan dan postingan media sosial, user generated content dari pengguna lainnya yang tidak dibayar oleh brand Anda bisa sangat berharga. Sebut saja komentar Google Review atau blog bisnis.

Review semacam ini sering kali menjadi rujukan calon konsumen karena dianggap lebih jujur dan apa adanya.

Salah satu manfaat blog bisnis untuk media branding meningkatkan brand awareness dan penyebutan organik tentang brand Anda.

7. Influencer

Banyak manfaat bekerja sama dengan influencer, salah satunya yaitu menawarkan branding positif.  Ini terjadi ketika seorang influencer menyebut brand atau produk Anda di media sosial, wawancara, atau di medium lainnya.

Meskipun brand sering kali membayar untuk penyebutan tersebut, hal ini juga dapat terjadi secara organik. Perusahaan dapat mengirimkan produk gratis kepada para infuencer atau mengundang mereka ke berbagai acara.

Kesimpulan

Salah satu kekuatan utama earned media adalah kemampuannya membangun kepercayaan. Karena tidak bersifat transaksional, earned media membuat brand terlihat lebih autentik dan relevan.

Inilah sebabnya banyak strategi PR modern menempatkan earned media sebagai tujuan utama, bukan sekadar pelengkap kampanye berbayar.

Namun, pada praktikknya memang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Brand hanya bisa mengelola pesan, narasi, dan hubungan dengan media, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan pihak ketiga.

Dengan memahami berbagai cara kerjanya, brand dapat membuka peluang eksposur yang lebih luas dan kredibel. Jadi, apa saja yang sudah Anda lakukan untuk mendapatkan earned media? Hubungi tim RadVoice untuk memaksimalkan potensi eksposur brand Anda.