Dalam dunia komunikasi, public relations (PR) dan jurnalistik sering dianggap mirip karena sama-sama berkaitan dengan media dan penyampaian informasi. Namun, keduanya memiliki tujuan, cara kerja, dan peran yang berbeda.
Memahami beda PR dan jurnalistik menjadi penting, terutama bagi Anda yang ingin berkarier di bidang komunikasi, media, atau perusahaan. Dengan memahami perbedaan ini, Anda dapat menentukan jalur karier yang paling sesuai dengan minat dan kemampuan.
Sebelum membahas lebih lanjut perbedaan antara public relations dan jurnalistik, alangkah baiknya mengetahui definisi dari kedua profesi tersebut.
Public relations (PR) adalah fungsi komunikasi yang bertujuan membangun dan menjaga citra positif suatu organisasi, perusahaan, atau individu di mata publik.
PR bekerja dengan menyusun strategi komunikasi, mengelola hubungan dengan media, serta memastikan pesan perusahaan tersampaikan dengan baik. Berbagai jenis pekerjaan PR pun tersedia sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Dilansir dari Public Relations Society of America, public relations adalah strategi komunikasi untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan antara suatu organisasi dan masyarakat.
Sedangkan jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyampaikan informasi kepada publik dalam bentuk berita. Jurnalis bertugas menyajikan informasi yang faktual, objektif, dan independen.
Dilansir dari American Press Institute, jurnalistik dapat didefinisikan sebagai kegiatan mengumpulkan, menilai, menciptakan, dan menyajikan berita dan informasi.
Menurut Universitas Multimedia Nusantara (UMN), PR dan jurnalistik sama-sama bergerak di bidang komunikasi, tetapi memiliki orientasi yang berbeda, yaitu PR untuk membangun citra, sedangkan jurnalistik untuk menyampaikan fakta.
Baca juga: Cara Menulis Feature Jurnalistik yang Menarik
Lalu, apa saja perbedaan antara public relations dan jurnalistik? RadVoice Indonesia telah merangkum lima beda PR & jurnalistik yang paling mendasar.

PR bertujuan membangun citra positif dan reputasi organisasi. Semua pesan yang disampaikan dirancang untuk mendukung kepentingan perusahaan.
Sebaliknya, jurnalistik bertujuan menyampaikan informasi kepada publik secara objektif tanpa memihak kepentingan tertentu.
Merujuk pada Vritimes, jurnalistik memiliki tanggung jawab publik, sedangkan PR memiliki tanggung jawab terhadap organisasi yang diwakilinya.
Namun tidak dapat dipungkiri, di era sekarang banyak perusahaan yang menjalin media relations dengan para jurnalis untuk meningkatkan citra perusahaan. Tentunya melalui cara-cara yang etis dan menguntungkan kedua belah pihak.
PR memiliki target audiens yang spesifik dalam menerbitkan sebuah artikel atau berita, seperti pelanggan, investor, atau stakeholder tertentu.
Hal ini bertujuan agar informasi yang disampaikan sesuai dengan target pasar yang ingin dijangkau oleh perusahaan terkait. Dengan begitu, pesan yang disampaikan diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan.
Sementara itu, jurnalistik menargetkan audiens yang lebih luas, yaitu masyarakat umum yang membutuhkan informasi. Pasalnya, informasi atau pesan yang dimuat merupakan sesuatu yang pernah atau sedang terjadi di lapangan.
Perbedaan ini memengaruhi cara penyampaian pesan, gaya bahasa, serta pemilihan topik.
Baca juga: Bagaimana Media Massa Memengaruhi Audiens: Pengertian, Teori, dan Contohnya
Dalam PR, konten ditulis dari sudut pandang perusahaan atau brand. Pesan yang disampaikan cenderung dikemas secara positif dan strategis, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan perusahaan terkait.
Sementara itu, jurnalistik menggunakan sudut pandang netral dan berimbang. Jurnalis dituntut menyajikan berbagai sisi dari sebuah isu.
Seluruh pesan dan informasi yang disampaikan berasal dari pengamatan dan wawancara jurnalis dan sesuai dengan fakta yang terjadi.
Produk yang dihasilkan pun akan berbeda, yaitu press release dan berita.

PR bekerja untuk menjalin hubungan baik dengan media agar informasi perusahaan dapat dipublikasikan.
Sebaliknya, jurnalis berada di sisi media dan berperan sebagai pihak yang menyeleksi, mengolah, dan menerbitkan informasi.
Hubungan ini membuat PR dan jurnalis sering berinteraksi, tetapi tetap memiliki peran yang berbeda.
Dalam PR, organisasi memiliki kontrol penuh terhadap pesan yang disampaikan, termasuk isi press release atau materi komunikasi lainnya.
Namun dalam jurnalistik, media memiliki kontrol penuh terhadap isi berita. Informasi dari PR dapat diolah, disunting, atau bahkan tidak dipublikasikan sama sekali. Hal ini sering menjadi alasan mengapa tidak semua press release dimuat di media.
Baca juga: 4 Tren PR di Masa Depan dan Tips Karier Relevan bagi Gen Z
Baik PR maupun jurnalistik memiliki prospek karier yang menjanjikan, terutama di era digital yang membutuhkan komunikasi yang cepat dan efektif.
Profesi PR semakin dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengelola reputasi, membangun branding, serta menangani komunikasi krisis. Peran ini juga berkembang ke arah digital PR dan strategi komunikasi berbasis data.
Sementara itu, jurnalistik juga terus berkembang dengan hadirnya media digital, platform online, dan jurnalisme multimedia. Jurnalis tidak hanya menulis berita, tetapi juga memproduksi konten dalam berbagai format seperti video dan podcast.
Jika Anda tertarik di bidang komunikasi, memahami skill yang dibutuhkan juga penting.
Memahami beda PR & jurnalistik adalah langkah awal untuk membangun komunikasi yang tepat dengan media.
Namun, agar pesan perusahaan benar-benar tersampaikan dan mendapatkan publikasi, dibutuhkan strategi PR yang terarah, mulai dari penulisan press release, media relations, hingga distribusi ke jurnalis yang relevan.
Tim Radvoice dapat membantu Anda merancang strategi komunikasi yang efektif, sehingga pesan yang disampaikan tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki nilai berita yang dilirik media.