Di sebuah media, wartawan tidak selalu menulis artikelnya sendiri. Salah satu alasannya karena beberapa praktisi PR rutin mengirim press release untuk disiarkan oleh reporter.
Berdasarkan press release itu, wartawan kemudian membuat berita yang gaya penulisannya disesuaikan dengan media tempat mereka bernaung.
Biasanya, wartawan akan memilih angle atau sudut pandang tulisan yang bernilai berita dan memiliki informasi penting sesuai dengan informasi dalam press release.
Meski begitu, sering kali setelah mendistribusikan press release dengan berbagai macam cara, informasi yang disebarkan tetap diabaikan oleh media. Kenapa bisa demikian?
Mengutip Jurnal IPTEKKOM, berita kehumasan atau press release berbeda karakteristiknya dengan produk berita lainnya. Jadi, jangan heran jika tidak semua siaran pers yang dikirimkan oleh praktisi PR ditayangkan di media.
Ada beberapa alasan penyebab siaran pers tidak diolah oleh wartawan. Salah satunya karena isu yang diangkat tidak menarik hingga terlalu berisi promosi.
Selain itu, para wartawan juga memiliki pertimbangan lain saat menerima materi siaran pers yang Anda bagikan.
Berangkat dari masalah itu, RadVoice Indonesia merangkum lima tips agar siaran pers yang dikirimkan dilirik oleh wartawan.

Sebuah press release harus memiliki nilai berita. (Foto oleh Freepik)
Wartawan akan menyiarkan press release jika memiliki nilai berita. Unsur siaran pers ini penting untuk diperhatikan oleh praktisi PR.
Pastikan nilai pemberitaan dalam siaran pers, masih relevan, dan disukai oleh banyak orang.
Isu teraktual mungkin akan menarik perhatian, namun harus tetap sesuai dengan produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan Anda.
Jangan sampai hal ini tidak berkaitan karena itu akan membuat wartawan menyingkirkan siaran pers yang diberikan.
Kutipan menjadi suatu hal yang penting dalam sebuah press release. Pasalnya, kutipan sangat penting dalam sebuah siaran pers karena dapat mempertegas isi dari deskripsi yang diberikan.
Hal ini juga menjadi salah satu pertimbangan wartawan dalam menyiarkan siaran pers perusahaan Anda. Pilihlah seorang yang relevan dan memiliki jabatan paling tinggi untuk memberikan kutipan.
Wartawan akan semakin tertarik untuk menyiarkan berita dari perusahaan Anda kalau kutipan yang diberikan berasal dari pemegang keputusan tertinggi.
Selain kutipan, Anda juga dapat menyertakan data pendukung di dalam siaran pers. Jika hal ini dilakukan, wartawan pasti tidak akan menolak atau bahkan selalu menunggu siaran pers dari Anda.

Gunakan teknik penulisan jurnalistik dalam press release. (Foto oleh Freepik)
Siaran pers adalah naskah berita yang dikirimkan kepada wartawan. Jadi, Anda tetap harus memperhatikan teknik penulisan jurnalistik.
Teknik penulisan jurnalistik dalam sebuah siaran pers akan mempermudah wartawan untuk mengolahnya. Anda harus menuliskan headline, kutipan, hingga kalimat penutup sesuai standar penulisan jurnalistik.
Khusus untuk headline alias judul press release, Anda harus bisa membuatnya menarik. Ada beberapa cara membuat judul press release yang akan menarik perhatian wartawan.
Siaran pers yang sudah mengandung unsur-unsur tersebut mungkin akan langsung dipublikasikan oleh jurnalis tanpa melalui proses editing.
Wartawan dituntut untuk bekerja cepat, sehingga mereka akan menghindari segala sesuatu yang membutuhkan waktu lama. Mengunduh attachment di email adalah salah satu hal yang menghambat kerja jurnalis.
Hal ini mungkin sering diabaikan oleh seorang praktisi PR. Namun, wartawan akan lebih senang membaca siaran pers yang sudah ada di body email atau dikirimkan via WhatsApp, lho.
Siaran pers yang sudah tersedia di body email atau WhatsApp akan lebih mudah dibaca dibandingkan harus mengunduh attachment yang memerlukan waktu lebih.
Setelah mengirimkan press release, praktisi PR perlu untuk melakukan follow up kepada jurnalis. Tahapan ini untuk memastikan kenapa artikel tidak dimuat di media.
Namun, perlu diingat bahwa proses ini harus dilakukan dengan bijak. Jangan sampai terkesan mengejar atau memaksa jurnalis untuk menerbitkan siaran pers yang dikirimkan.
Praktisi PR bisa bertanya kepada wartawan jika ada data atau informasi yang kurang. Anda juga bisa menawarkan untuk wawancara eksklusif dengan narasumber terkait.
Melakukan follow up ini juga bisa menjadi bahan evaluasi praktisi PR untuk mengirimkan press release di masa yang akan datang.
Wartawan membutuhkan press release untuk meringankan pekerjaan mereka. Praktisi PR pun juga membutuhkan media untuk menyiarkan siaran persnya.
Namun, wartawan memiliki pertimbangan sebelum mempublikasikan sebuah siaran pers di media, antara lain terkait nilai berita hingga gaya penulisan dari materi yang diberikan.
Seorang praktisi PR perlu memahami pertimbangan-pertimbangan tersebut sehingga tujuan publikasi melalui media bisa tercapai. Jadi, apakah siaran pers yang Anda buat sudah memenuhi unsur itu?
Tim RadVoice dapat membantu Anda tidak hanya dalam menyusun pesan komunikasi yang kuat, tetapi juga mempersiapkan strategi komunikasi yang efektif untuk berbagai kebutuhan, termasuk media exposure dan corporate communication.