Storytelling Ramadan dan Lebaran: Cara Brand Menyentuh Emosi Audiens

Setiap ramadan dan menjelang lebaran, banyak brand di Indonesia merilis kampanye yang terasa berbeda dari iklan biasa. Ceritanya lebih hangat, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan sering kali memancing emosi penonton. 

Tidak sedikit orang yang bahkan menunggu iklan dari brand tertentu setiap tahunnya karena pesan yang disampaikan dan cerita yang dibangun begitu berkesan.

Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan. Ramadan dan lebaran merupakan momen yang sangat emosional bagi masyarakat Indonesia. Tradisi mudik, budaya berkumpul dengan keluarga, saling memaafkan, dan berbagi dengan sesama menciptakan pengalaman yang kuat secara emosional.

Karena itu, banyak brand memanfaatkan momen ini membuat konten storytelling yang memikat. Bukan sekadar mempromosikan produk, tetapi menghadirkan cerita yang relevan dengan kehidupan audiens.

Baca juga: Strategi Arya Chandra Menerapkan Storytelling dalam Konten Internal Wings Group Indonesia

Mengapa Storytelling Penting dalam Komunikasi Brand

storytelling ramadan
Storytelling tidak hanya membuat kampanye lebih menarik, tetapi juga berpengaruh pada keputusan konsumen. (Foto oleh tirachardz/Freepik).

Storytelling adalah cara brand menyampaikan pesan melalui cerita yang memiliki emosi, karakter, konflik, dan pesan yang jelas. Pendekatan ini membuat komunikasi brand terasa lebih manusiawi dibandingkan iklan yang hanya menjelaskan fitur produk.

Menurut Adobe, brand storytelling adalah strategi untuk menyampaikan nilai dan identitas brand melalui narasi yang menarik sehingga audiens dapat terhubung secara emosional dengan brand tersebut.

Adobe juga mencatat bahwa konten yang disampaikan melalui cerita dapat meningkatkan keterlibatan audiens dan bahkan meningkatkan konversi hingga sekitar 30 persen dibandingkan pesan yang hanya berisi informasi produk.

Artinya, storytelling tidak hanya membuat kampanye lebih menarik, tetapi juga berpengaruh pada keputusan konsumen.

Budaya Ramadan dan Lebaran Indonesia yang Sering Menjadi Inspirasi Cerita

storytelling ramadan
Banyak cerita kampanye lebaran menggambarkan perjuangan seseorang untuk pulang meskipun harus menempuh perjalanan jauh. (Foto oleh Freepik)

Salah satu alasan storytelling ramadan dan lebaran terasa kuat adalah karena banyak cerita yang diangkat berasal dari pengalaman nyata masyarakat Indonesia. Beberapa tema yang paling sering muncul biasanya mengangkat storytelling yang emosional.

Buka Puasa Bersama

Kehangatan dan kerinduan untuk berkumpul dengan orang-orang terdekat seringkali diperlihatkan lewat budaya buka puasa bersama (bukber). Kebersamaan yang digambarkan secara sederhana namun justru menyentuh emosi audiens.

Baca juga: Menghidupkan Tulisan dengan Teknik Storytelling Bersama Jurnalis Abdul Latif

Mudik Lebaran
Perjalanan pulang ke kampung halaman menjadi simbol kerinduan terhadap keluarga. Banyak cerita kampanye lebaran menggambarkan perjuangan seseorang untuk pulang meskipun harus menempuh perjalanan jauh.

Silaturahmi dan Saling Memaafkan
Momen saling memaafkan setelah salat Idulfitri sering menjadi titik emosional dalam banyak cerita brand.

Kebersamaan Keluarga
Momen makan bersama atau berkumpul di rumah orang tua menjadi gambaran yang sangat familiar bagi masyarakat Indonesia.

Cerita yang berasal dari pengalaman sehari-hari seperti ini membuat audiens merasa bahwa cerita tersebut adalah bagian dari kehidupan mereka sendiri.

Peran Digital dan Influencer dalam Storytelling Ramadan dan Lebaran

storytelling ramadan
Banyak brand menggabungkan storytelling dengan influencer marketing. (Foto oleh Freepik)

Storytelling brand saat ini tidak hanya hadir melalui iklan televisi. Banyak kampanye ramadan juga berkembang melalui media sosial dan kolaborasi dengan influencer.

Menurut laporan dari Indigo Telkom, sekitar 68 persen konsumen di Indonesia menonton konten video dari influencer selama ramadan, dan konten tersebut sering memengaruhi keputusan pembelian mereka.

Karena itu, banyak brand menggabungkan storytelling dengan influencer marketing. Influencer biasanya membagikan cerita atau pengalaman pribadi yang berkaitan dengan ramadan atau lebaran sehingga pesan brand terasa lebih autentik bagi audiens.

Pendekatan ini juga membantu brand menjangkau generasi muda yang lebih banyak mengonsumsi konten digital dibandingkan media tradisional.

Elemen Storytelling yang Efektif untuk Kampanye Ramadan dan Lebaran

Agar storytelling terasa kuat dan relevan, berikut beberapa elemen yang biasanya digunakan oleh brand:

Cerita yang Relatable

Cerita yang paling berhasil biasanya menggambarkan pengalaman yang familiar bagi banyak orang.

Misalnya, anak yang merantau di kota besar, orang tua yang menunggu kepulangan anak, atau keluarga yang akhirnya berkumpul setelah lama terpisah. Cerita seperti ini membuat audiens merasa terhubung secara emosional.

Nilai yang Selaras dengan Momen Ramadan

storytelling ramadan
Dalam storytelling yang efektif, produk tidak selalu menjadi pusat cerita. (Foto oleh Freepik).

Storytelling yang kuat biasanya selaras dengan nilai-nilai ramadan seperti kebersamaan, kesabaran, dan berbagi dengan sesama.

Ketika cerita brand mencerminkan nilai tersebut, audiens lebih mudah menerima pesan yang disampaikan.

Pesan yang Tidak Terlalu Promosional

Dalam storytelling yang efektif, produk tidak selalu menjadi pusat cerita. Produk biasanya muncul secara natural sebagai bagian dari kehidupan karakter dalam cerita.

Pendekatan ini membuat kampanye terasa lebih autentik dan tidak seperti iklan yang memaksa.

Baca juga: Bagaimana Mengemas Brand Storytelling yang Mengena di Momen Lebaran?

Contoh Brand yang Berhasil Menggunakan Storytelling Lebaran

Beberapa brand di Indonesia sudah dikenal konsisten menggunakan storytelling dalam kampanye ramadan mereka.

Salah satu kampanye yang sempat banyak dibicarakan adalah iklan ramadan dari Ramayana yang menceritakan seorang ibu yang setiap tahun menjalani ramadan dengan kenangan terhadap suaminya yang telah meninggal.

Cerita menyentuh dari Ramayana dengan plot twist yang membuat audiens emosional. (Video oleh Ramayana).

Dalam cerita tersebut, rutinitas ramadan sang ibu seolah tidak berubah sejak kepergian suaminya. Setiap momen selama bulan puasa selalu mengingatkannya pada kebersamaan mereka di masa lalu.

Cerita ini terasa sangat dekat dengan realitas banyak keluarga di Indonesia. Banyak orang mengalami ramadan dengan kenangan terhadap anggota keluarga yang sudah tidak ada.

Tanpa promosi produk yang berlebihan, cerita sederhana ini berhasil menyentuh emosi penonton.

Contoh lain adalah kampanye dari Sirup Marjan. Selama bertahun-tahun, brand ini dikenal rutin menghadirkan iklan ramadan dengan cerita yang berbeda setiap tahunnya.

Konsistensi brand menjadikan iklan Sirup Marjan dinantikan saat bulan ramadan. (Video oleh Sirup Marjan).

Iklan Marjan sering dikemas seperti film pendek dengan alur cerita yang jelas, karakter yang kuat, dan visual yang menarik. Produk biasanya muncul dalam momen berbuka puasa atau kebersamaan keluarga.

Konsistensi storytelling ini membuat banyak orang menganggap iklan Marjan sebagai salah satu “hilal” atau penanda datangnya bulan ramadan di Indonesia.

Apa yang Bisa Dipelajari oleh Brand

storytelling ramadan
Kunci dari storytelling ramadan dan lebaran bukan hanya pada cerita yang menyentuh, tetapi pada kemampuan memahami pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat. (Foto oleh Freepik).

Dari berbagai kampanye tersebut, ada beberapa pelajaran penting bagi brand yang ingin memanfaatkan storytelling dalam kampanye lebaran.

Pertama, cerita yang paling kuat biasanya berasal dari pengalaman sehari-hari yang dekat dengan kehidupan audiens.

Kedua, emosi sering kali lebih diingat dibandingkan pesan promosi. Audiens mungkin lupa detail produk, tetapi mereka akan mengingat cerita yang menyentuh.

Ketiga, konsistensi storytelling dapat membantu memperkuat identitas brand dari waktu ke waktu.

Kesimpulan

Di tengah banyaknya konten yang muncul setiap hari, storytelling menjadi cara yang efektif bagi brand untuk membangun hubungan emosional dengan audiens.

Lebaran memberikan konteks budaya yang sangat kuat untuk membangun cerita. Ketika brand mampu mengangkat nilai-nilai seperti keluarga, kebersamaan, dan berbagi secara autentik, kampanye yang dibuat tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga meninggalkan kesan yang lebih dalam.

Bagi brand dan praktisi komunikasi, kunci dari storytelling ramadan dan lebaran bukan hanya pada cerita yang menyentuh, tetapi pada kemampuan memahami pengalaman nyata yang dirasakan masyarakat selama momen tersebut.

Jika brand Anda ingin menghadirkan kampanye storytelling yang relevan, terutama untuk momen penting seperti ramadan dan lebaran, tim Radvoice Indonesia siap membantu merancang strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter brand dan kebutuhan audiens Anda.

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.