TAIPEI – Di antara deretan teknologi canggih di Smart City Summit & Expo (SCSE) 2026 di Taipei, Taiwan, ada satu yang paling menarik perhatian: sebuah robot yang memasak semangkuk ramen dari nol.
Lengan robot itu bergerak cepat dan presisi. Ia mengambil mie, memasukkannya ke air mendidih, lalu menyusun topping satu per satu. Dalam waktu kurang dari dua menit, semangkuk ramen siap disajikan. Tidak ada koki, tidak ada dapur konvensional. Hanya mesin, algoritma, dan sistem otomatis yang bekerja tanpa henti.
Sekilas, ini terlihat seperti atraksi. Tapi di baliknya, ada solusi untuk masalah nyata, yaitu kekurangan tenaga kerja di industri makanan, kebutuhan efisiensi, dan standar kualitas yang konsisten. Dan dari satu mangkuk ramen itu, gambaran tentang smart city atau kota pintar mulai terasa lebih dekat.

Sebagai pengunjung dari Indonesia, pengalaman ini terasa cukup kontras. Teknologi seperti ini masih jarang ditemui dalam keseharian, dan biasanya hanya hadir dalam bentuk berita, video, atau presentasi. Melihatnya bekerja langsung di depan mata memberi dimensi yang berbeda. Apa yang sering terdengar futuristik, sebenarnya sudah mulai diterapkan.
Miniatur Kota Pintar dalam Satu ‘Panggung’
Pengalaman di dalam SCSE 2026 terasa seperti berjalan di dalam versi mini dari sebuah kota pintar. Isinya bukan hanya kumpulan booth, tetapi potongan-potongan sistem kota yang terlihat seperti disusun ulang. Dari transportasi, energi, keamanan, hingga layanan publik, semuanya terhubung oleh teknologi.
Baca juga: Dari Semangkuk Ramen, Gambaran Kota Pintar Itu Terlihat Nyata
Di satu sisi, perusahaan seperti Chunghwa Telecom menunjukkan bagaimana jaringan komunikasi menjadi tulang punggung kota, memastikan data tetap mengalir bahkan dalam kondisi darurat.

Di sisi lain, MiTAC Information Technology dan Delta Electronics berupaya menghadirkan solusi energi dan tata kelola berbasis AI. Di antaranya konsep virtual power plant yang memungkinkan distribusi listrik lebih fleksibel dan efisien.
Sistem tersebut menggabungkan berbagai sumber energi kecil (seperti panel surya, baterai, atau pembangkit lokal) lalu mengelolanya dengan software agar bekerja seperti satu pembangkit listrik besar.
Sementara itu, perusahaan seperti Taiwan SECOM menghadirkan sistem keamanan berbasis otomatisasi. Misalnya, drone dan teknologi pemantauan yang mampu melakukan patroli tanpa intervensi manusia.
Baca juga: Pengalaman Melihat AI dan Robot dari Dekat di Smart City Summit & Expo 2026
Semua ini tidak berdiri sendiri. Setiap solusi terasa seperti bagian dari sistem yang lebih besar, seperti melihat cara sebuah kota bekerja dari dalam.
Pendekatan ini juga terlihat jelas di AI City Pavilion, di mana perusahaan seperti ASUS dan Foxconn menampilkan bagaimana kota bisa dibangun sebagai satu ekosistem utuh. Mulai dari infrastruktur komputasi hingga aplikasi layanan publik, semuanya dirancang untuk saling terhubung dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kota.

Yang menarik, hampir semua solusi di pameran ini memiliki benang merah yang sama: kecerdasan buatan (AI) dan keberlanjutan. Dari robot yang memasak hingga sistem energi kota, AI tidak lagi berdiri sebagai teknologi terpisah, tetapi menjadi lapisan yang menyatukan berbagai fungsi.
Bagi banyak pengunjung, setidaknya bagi saya, pengalaman ini membuka perspektif baru. Smart city bukan lagi sekadar konsep besar yang jauh atau hanya tertulis di presentasi. Konsep ini menjadi sesuatu yang bisa dilihat, dipahami, dan mulai dibayangkan penerapannya di kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Taiwan Pamerkan Solusi AI untuk Kota Masa Depan di Smart City Summit & Expo 2026
Pada akhirnya, Smart City Summit & Expo 2026 tidak hanya menampilkan apa yang bisa dilakukan teknologi, tetapi bagaimana teknologi itu ditempatkan dalam konteks kota. Dan di Taipei, gambaran itu terasa cukup jelas: kota pintar bukan sekadar tentang inovasi, tetapi tentang bagaimana semua sistem bisa bekerja bersama, bahkan dimulai dari hal sesederhana semangkuk ramen.
Adinda Pryanka menghadiri SCSE 2026 atas undangan Taipei Computer Association.