3+ Prinsip Jurnalistik yang Wartawan Kompas Frenky Wijaya Pegang Teguh

Frenky Wijaya, wartawan Harian Kompas, memegang berbagai prinsip jurnalistik dalam setiap peliputannya.

Frenky Tanni Wijaya, produser video Harian Kompas, senantiasa mengedepankan berbagai prinsip jurnalistik saat menggarap setiap liputannya untuk salah satu media terbesar di Indonesia.

“Saya dan tim tidak bisa membuat liputan yang sekadar jadi saja. Setiap liputan yang dikerjakan harus memiliki dampak, khususnya bagi masyarakat, yang tentunya sudah dijalankan oleh Harian Kompas sejak pertama berdiri di tahun 1965,” kata Frenky.

“Seperti namanya, ‘Kompas’ adalah penunjuk arah bagi rakyat Indonesia. Itulah yang diinginkan oleh Presiden Soekarno saat memberikan nama ‘Kompas’ kepada kami,” tambahnya.

Reportase Frenky membahas beragam isu seperti kasus depresi di Indonesia dan kereta cepat Whoosh, dengan tetap mengusung beragam etika dan prinsip jurnalistik. Banyak laporannya diterbitkan dalam format video sebagai inovasi Harian Kompas di era digital.

Sebagai produser video Harian Kompas, Frenky terbiasa meliput dari mana saja. (Foto oleh narasumber)

Frenky telah menjadi produser Harian Kompas sejak November 2021. Ia sebelumnya bertugas sebagai koresponden dan produser lapangan di stasiun televisi CNN Indonesia.

Lalu, apa sajakah prinsip jurnalistik yang sudah Frenky terapkan selama hampir sepuluh tahun berkarier sebagai wartawan?

3+ Prinsip Jurnalistik yang Frenky Wijaya Pegang

Frenky membagikan beberapa prinsip jurnalistik yang mendasari dedikasinya terhadap profesi ini kepada RadVoice Indonesia. Berikut selengkapnya.

Berdampak untuk Masyarakat

“Ide-ide liputan biasanya muncul dari melihat hal-hal sederhana yang terjadi di sekitar yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

“Misalnya: persoalan banjir di suatu wilayah. Kenapa, sih, banjir terus? Apa penyebabnya? Dari situ, saya langsung brainstorming bareng tim dan pitching (menawarkan ide). Kalau oke, ya, langsung liputan. 

“Kenapa hal-hal sederhana? Karena menurut saya, justru hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari ini yang meresahkan bagi masyarakat.

“Sebagai jurnalis, inilah hal yang bisa dilakukan untuk masyarakat dengan memberitakan persoalan yang terjadi di masyarakat. Tujuannya agar pemangku kepentingan bisa melihat persoalan-persoalan yang mungkin tidak mereka ketahui.”

Humanis

“Saya membuat liputan bertajuk Kesetaraan dan Kesempatan Kerja Jadi Harapan Difabel Netra di Pemilu 2024. Ini membahas tentang bagaimana para penyandang disabilitas netra di Jabodetabek menanggapi pemilu.

Cuplikan liputan Frenky soal harapan para penyandang disabilitas netra Jabodetabek terhadap Pemilu 2024. Menjadi wartawan humanis adalah salah satu prinsip jurnalistiknya. (Tangkapan layar dari Kompas.id)

“Bagaimana mereka mendapatkan informasi soal pemilu? Bagaimana harapan mereka terhadap Indonesia ke depan lewat pemilu? Dan khususnya apa harapan mereka terhadap penyadang disabilitas?

“Kelihatan sederhana, tapi sangat penting menurut saya. Karena saat pemilu, justru lebih banyak sorotan terhadap capres-cawapres. Padahal suara-suara rakyat ini juga penting. Kita, kan, memilih wakil rakyat, jadi harus bertanya ke rakyat mau pemimpin yang seperti apa.”

Akurasi dan Independensi

“Akurasi dan independensi menjadi hal penting yang saya pegang selama menjadi jurnalis.

“Karena menurut saya, jurnalis punya tanggung jawab kepada publik. Oleh karena itu, segala bentuk pekerjaannya haruslah akurat dan independen.

Frenky (baris kedua, kedua dari kanan) dengan rekan-rekan jurnalis meliput KTT ke-43 ASEAN di Jakarta pada September 2023. Berada langsung di lokasi membuat liputan Frenky lebih akuntabel di mata publik. (Foto oleh narasumber)

“Apa yang dihasilkan dalam kerja-kerja jurnalistik pasti akan memiliki dampak kepada publik. Sebagai jurnalis, saya tidak boleh asal-asalan mengerjakannya.”

Berimbang

“Terjun langsung ke lapangan untuk melihat langsung sebuah peristiwa atau fenomena merupakan cara terbaik yang saya percayai untuk menghasilkan karya yang akurat dan berimbang.

Frenky meliput di kompleks DPR di Senayan, Jakarta. Menghasilkan reportase berimbang adalah salah satu prinsip jurnalistik yang ia usung. (Foto oleh narasumber)

“Membiasakan diri untuk mengecek latar belakang narasumber yang akan kita wawancara juga penting. Apakah memiliki konflik kepentingan dengan isu yang sedang dibahas? Ini juga biasa saya lakukan agar karya yang dihasilkan bisa berimbang.”

Wawancara dengan Frenky Tanni Wijaya dilakukan pada Sabtu, 8 Juni 2024. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.


RadVoice Indonesia dapat menyampaikan pesan institusi Anda melalui laporan media yang kredibel di Indonesia. Berbekal pendekatan bercerita dan standar konten yang tinggi, RadVoice Indonesia akan bekerja sama dengan Anda untuk menulis artikel yang edukatif dan membidik media-media nasional atau internasional yang relevan.

Jadwalkan konsultasi online dengan RadVoice Indonesia di sini. 100% gratis, tanpa komitmen.