Melakukan liputan eksklusif di Tiongkok tak sekadar mengumpulkan informasi, tapi juga menghadapi tantangan yang tak biasa bagi seorang jurnalis.
Nadia Jovita Injilia Riso, harus menghadapi keterbatasan akses hingga hambatan bahasa dan budaya saat meliput selama empat bulan di negeri tirai bambu tersebut.
Meski demikian, jurnalis Kumparan ini mengaku mendapat banyak pengalaman berharga selama melakukan liputan eksklusif sejak Agustus hingga Desember 2024.
Melalui program China International Press Communication Center (CIPCC) yang digelar oleh China Public Diplomacy Association (CPDA) di bawah Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Nadia mempelajari sejarah, budaya, geopolitik hingga ekonomi Tiongkok dari berbagai sudut pandang.
Ia bergabung dalam kelompok Asia Pacific Center dan mengeksplorasi berbagai liputan di Tiongkok dengan lebih dari 90 jurnalis dari negara-negara berkembang lain.
Pengalaman Liputan Eksklusif di Tiongkok
RadVoice Indonesia telah mewawancarai Nadia tentang pengalamannya selama meliput di Tiongkok. Berikut selengkapnya.
Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi selama melakukan liputan eksklusif di Tiongkok?
“Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah informasi yang saya dapatkan selalu satu pintu, yaitu dari pihak pemerintah Tiongkok.
“Ada sejumlah pertanyaan yang saya ajukan kepada mereka dan mereka tidak bisa menjawab secara spontan karena setiap pertanyaan harus diserahkan dulu ke pihak yang lebih berwenang agar mereka bisa menyusun jawaban.
“Setelah itu jawaban tersebut baru bisa disampaikan kepada jurnalis yang jadi peserta program.

“Dalam banyak kesempatan, saya merasa jawaban yang disampaikan pihak pemerintah kurang komprehensif dan bisa dibilang tidak begitu menjawab pertanyaan jurnalis peserta program.
“Mereka juga menugaskan terlalu banyak orang untuk menjawab pertanyaan, padahal menurut saya pertanyaan yang diajukan oleh jurnalis bukanlah pertanyaan sensitif, melainkan pertanyaan umum atau general.
“Sehingga, untuk melengkapi tulisan atau laporan, saya harus melakukan riset sendiri. Meski, sebetulnya riset saja tidak cukup karena saya dan jurnalis membutuhkan pernyataan komprehensif dari pihak pemerintah.”
Bagaimana Anda menyiasati kendala bahasa dan budaya saat melakukan liputan atau wawancara narasumber?
“Selama program berlangsung, untungnya kami selalu didampingi penerjemah yang dengan sigap membantu untuk menerjemahkan pertanyaan ke pihak pemerintah dan menerjemahkan jawaban pihak pemerintah ke kami.
“Saya pun juga jadi mempelajari budaya atau gaya jurnalistik mereka yang sangat berbeda dengan Indonesia.
“Di Indonesia, wartawan dapat mengajukan pertanyaan on the spot (doorstop), sementara di Tiongkok hal itu tidak bisa dilakukan karena semua pertanyaan harus di-list, dikurasi ulang oleh mereka.
“Selanjutnya mereka yang akan memilih pertanyaan mana yang akan mereka jawab dan mana yang mereka tidak mau atau enggan menjawabnya.

“Memang awalnya agak culture shock, namun lama kelamaan saya bisa menyesuaikan diri dan maklum dengan perbedaan ini.
“Sebab, dalam budaya jurnalistik di Tiongkok media sangat dikontrol oleh Partai Komunis China (PKC). Pemimpin redaksi media-media yang ada di Tiongkok pun sebagian besar adalah wartawan senior yang telah menjadi anggota PKC.
“Sementara di Indonesia yang budaya jurnalistiknya lebih terbuka, wartawan dapat mengajukan pertanyaan apapun kepada pihak berwenang tanpa harus diatur dengan ketat.”
Bagaimana keterbatasan akses terhadap internet atau platform tertentu di Tiongkok memengaruhi proses liputan Anda?
“Seperti diketahui, layanan Google tidak dapat dilakukan di Tiongkok karena pemerintah memblokir akses Google.
“Untuk melakukan pencarian atau riset, saya harus mengaktifkan VPN meski koneksinya tidak secepat yang saya harapkan.
“Saya kemudian menyiasatinya dengan menggunakan situs pencarian milik China, Baidu, untuk mendapatkan tambahan informasi tentang Tiongkok untuk tulisan saya, dengan harapan informasi tambahan yang saya dapatkan lewat Baidu bisa lebih akurat dibanding jika saya mencarinya lewat Google.”
Bagaimana cara Anda memandang profesi jurnalis setelah menjalani pengalaman liputan eksklusif di Tiongkok?
“Pandangan saya terhadap profesi jurnalis tidak berubah, yaitu jurnalis menjadi jembatan antara otoritas pemerintah dengan masyarakat untuk melihat berbagai sudut pandang.
“Dalam pengalaman saya empat bulan di Tiongkok, saya dapat merasakan pentingnya untuk tinggal dalam jangka waktu tertentu di suatu negara untuk benar-benar bisa memahami negara yang selama ini jadi pemberitaan.
“Apalagi, kita tahu pemberitaan soal Tiongkok di media internasional lebih banyak didapatkan dari media-media barat seperti Reuters, AFP, atau Associated Press.
“Bisa dibilang jarang ada yang membaca berita Tiongkok dari media Tiongkok seperti Xinhua, China Daily, atau CGTN.

ketimbang media lokalnya.
“Meski tentu saja, saya yakin ada banyak hal atau informasi yang mungkin belum sangat akurat yang saya dapatkan, tapi setidaknya itu sudah menjadi bekal untuk saya bagaimana memberitakan Tiongkok langsung dari sudut pandang Tiongkok.
“Bagaimana memahami geopolitik Tiongkok, bagaimana usaha Tiongkok untuk menjadi jembatan bagi negara-negara selatan, bagaimana Tiongkok menginginkan dunia yang tidak didominasi oleh satu kekuatan saja.
“Banyak pelajaran yang saya dapat dan menjadi bekal baru bagi saya dalam memberitakan Tiongkok ke depan.”
Kesimpulan
Nadia harus menghadapi tantangan berupa perbedaan bahasa dan budaya selama melakukan liputan eksklusif di Tiongkok.
Perbedaan cara meliput di negara dengan 1,4 miliar penduduk itu juga sempat membuat Nadia mengalami culture shock.
Jika di Indonesia jurnalis dapat langsung mengajukan pertanyaan kepada narasumber pemerintah, di Tiongkok pertanyaan tersebut akan diseleksi kembali oleh tim dari pemerintah.
Kendati demikian, Nadia menyadari pengalamannya selama liputan eksklusif di Tiongkok membuatnya lebih memahami kondisi sosial politik di negara tersebut.
Ia menjadikannya sebagai bekal dalam memberitakan berbagai informasi terkait Tiongkok ke depan.
Wawancara dengan Nadia Jovita Injilia Riso dilakukan pada Jumat, 10 Januari 2025. Wawancara ini telah diedit agar lebih ringkas.