Model AISAS: Pengertian, Tujuan, dan Cara Menggunakannya

Tahukah Anda bahwa terdapat sebuah teknik copywriting bernama model AISAS yang dapat menarik perhatian lebih para audiens?

Bahkan, menurut penelitian yang diterbitkan Journal of Physics Conference Series, teknik copywriting yang satu ini dapat diaplikasikan di seluruh dunia broadcasting untuk memberi informasi yang jelas dan dapat mendorong audiens untuk menyebarkannya.

Penasaran dengan model penulisan AISAS? Bagaimanakah model ini dapat diaplikasikan di perusahaan Anda? Simak di bawah ini!

Apa Itu Model AISAS?

Model AISAS adalah salah satu dari puluhan teknik copywriting yang biasa digunakan dalam dunia pemasaran. AISAS sendiri merupakan singkatan dari Attention (Perhatian), Interest (Ketertarikan), Search (Mencari), Action (Tindakan), dan Share (Membagikan).

Model tersebut dihadirkan oleh Dentsu Group Inc. sebagai bentuk pengembangan dari model penulisan sebelumnya, seperti model AIDA dan AIDMA. 

Kedua model tersebut mulai dirasa kurang efektif untuk diaplikasikan, apalagi adanya perubahan perilaku dan kemajuan internet, khususnya di media sosial.

Mengapa Model AISAS Penting?

Setelah mengetahui definisi model AISAS, lantas mengapa model ini penting? 

1. Membuat Kampanye Lebih Tepat Sasaran

Pertama, saat ini pemasaran internet dan digital lebih banyak diimplementasikan. Karena itu, model AISAS dapat membantu sebuah kampanye pemasaran lebih tepat sasaran dan relevan. 

Laman GMO Research menjelaskan, model AISAS dianggap lebih baik untuk pemasaran internet atau digital.

Model ini relevan dalam kasus komunikasi bersifat dua arah antara konsumen dan bisnis, banyak berlaku dalam kasus penggunaan media sosial. 

2. Menjabarkan Perilaku Konsumen

Kedua, model AISAS juga dapat menjabarkan perilaku konsumen saat ini terhadap produk atau jasa yang sedang ditawarkan.

Karena itu, Anda perlu melihat secara menyeluruh sebelum mengeksekusi sebuah kampanye.

Dilansir dari laman Suitmedia, agensi public relations (PR) atau media relations dapat membuat kampanye dengan model AISAS untuk melakukan pendekatan komunikasi yang tepat, mulai dari tahapan: 

  • Menawarkan produk melalui periklanan digital
  • Memberikan penawaran promo untuk meningkatkan minat audiens
  • Mengajak audiens untuk memberikan kesan terhadap produk atau jasa untuk menjadi pelanggan setia
  • Membuat audiens berbagi kesan atau cerita terhadap produk atau jasa dengan kesadaran sendiri

3. Mengukur Kualitas Konten

Ketiga, menurut penelitian dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, model AISAS dapat membantu Anda untuk mengukur kualitas konten. Menurut teori pemasaran konten (content marketing), lima indikator seperti mengedukasi, menginformasikan, menghubungkan, menghibur, dan menciptakan kepercayaan dapat dibentuk melalui model AISAS. 

Penelitian tersebut menunjukkan, model AISAS dapat terimplementasi dengan baik pada konten media sosial dengan tagar (hashtag) tertentu, dan menghasilkan interaksi dari audiens, berupa berbagi ke pengguna atau kanal media sosial lain, membeli produk atau jasa, berlangganan atau repurchase, hingga mengulas pro dan kontranya di media sosial. 

4. Word of Mouth

Keempat, model AISAS memungkinkan perusahaan dan brand mendapatkan kepercayaan konsumen melalui word of mouth. Konsumen dapat menyampaikan informasi hingga menciptakan kepercayaan.

Konten yang Anda hasilkan dan citranya positif akan membangun kepercayaan konsumen, bahkan menambah calon konsumen baru. 

5. Membantu Calon Pelanggan Memahami Lebih Banyak

Kelima, model AISAS membantu calon konsumen untuk mencari tahu lebih dalam produk atau jasa. Model ini meningkatkan kesadaran masyarakat soal nilai kebergunaan untuk menyelesaikan masalah (pain point) mereka. 

Keenam, model AISAS bersifat dinamis. Tahapan AISAS tidaklah berurutan. Ini tergantung perilaku konsumen sesuai kebutuhan. Perusahaan atau brand perlu memaksimalkan kebergunaan produk atau jasa dan membangun kepercayaan konsumen. 

Tujuan dan Cara Menggunakan Model AISAS

Secara garis besar, model copywriting AISAS bertujuan untuk memberikan pendekatan efektif kepada audiens. Caranya? Dengan menarik perhatian dan mengenalkan produk lebih jauh, sehingga mereka yakin untuk memilih produk tersebut dan menyebarkannya.

Meski pada awalnya model AISAS digunakan untuk kebutuhan copywriting, faktanya model ini dapat digunakan pada kegiatan broadcasting dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan penyampaian informasi.

Pengaplikasian model ini pun terbukti memiliki dampak baik pada penggunaannya di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan lain sebagainya.

Bagi Anda yang penasaran bagaimana cara mengaplikasikannya pada perusahaan Anda, berikut ini cara menggunakannya.

1. Attention – Perhatian

A pada model AISAS adalah Attention atau perhatian. Mendapatkan perhatian audiens adalah hal pertama yang harus dilakukan oleh para copywriter maupun pembuat konten. Jika sejak awal audiens tertarik dengan tulisan Anda, mereka akan lanjut membacanya.

Anda bisa menggunakan format ini pada judul layaknya clickbait maupun pada kalimat pembuka. Jika Anda sadar, kalimat pertama dari artikel ini menerapkan poin attention untuk mendapatkan perhatian.

Bentuknya pun dapat berupa edukasi atau hiburan. Kalimat pembuka yang edukatif membuat audiens mendapatkan informasi baru. Sedangkan, hiburan mampu menarik perhatian dengan cara permainan kata seperti rima, majas, polisemi (banyak makna), dan lain-lain.

2. Interest – Ketertarikan

I pada model AISAS adalah Interest atau ketertarikan. Setelah mendapatkan perhatian audiens dengan kalimat pembuka yang umum, selanjutnya adalah bagaimana membuat audiens tertarik dengan memaparkan berbagai hal menarik tentang produk Anda. 

Sama seperti poin sebelumnya, pada bagian ini Anda dapat membuat audiens tertarik melalui edukasi atau hiburan. Jika berbentuk edukasi, Anda harus memberikan keunggulan dan fakta menarik yang produk Anda miliki.

Namun, jika Anda memilih hiburan, Anda bisa menggunakan poin yang sebelumnya disebutkan di atas. Jika berbentuk visual, Anda dapat memperagakan cara pakai produk tersebut.

3. Search – Mencari

S pada model AISAS adalah Search atau mencari. Ini adalah tingkatan yang berbeda dan hanya dimiliki oleh model AISAS.  Poin ini mengajak audiens untuk mencari dan mempelajari lebih jauh tentang produk yang Anda punya.

Sebagaimana sebuah iklan, Anda tidak bisa memuat seluruh informasi suatu produk. Pastinya, Anda hanya merangkum beberapa hal penting saja yang menjadi nilai jual produk tersebut. 

Jika audiens benar-benar penasaran dengan produk Anda, mereka akan langsung mencari seluruh informasi terkait produk tersebut.

Terdapat dua teknik pemberian informasi yang bisa Anda berikan, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Jika Anda secara eksplisit memberikan sumber informasi, itu disebut dengan langsung. 

Tapi, jika Anda tidak memberikan sumber informasi atau memberikan pernyataan yang sulit dipercaya audiens seperti “satu-satunya di Indonesia” atau “pertama di kelasnya”, itu disebut dengan tidak langsung. Audiens yang tidak percaya hal tersebut nantinya akan mencari informasi sendiri untuk memvalidasi pernyataan tersebut.

4. Action – Tindakan

A pada model AISAS adalah Action atau tindakan. Inilah poin yang selalu menjadi target dari sebuah marketing, yaitu tindakan. Tindakan yang dimaksud adalah audiens memilih dan membeli produk yang Anda iklankan.

Audiens yang sejak awal telah mendapatkan banyak sekali informasi terhadap produk Anda dapat memutuskan apakah produk Anda layak dibeli atau tidak.

Pada poin ini, pada sebuah iklan, biasanya informasi tersebut berupa lokasi dan cara pembelian produk yang Anda tawarkan. 

5. Share – Membagikan

S pada model AISAS adalah Share atau membagikan. Poin terakhir dan sekaligus nilai tambah dari model AISAS adalah membagikan. Poin ini hadir atas dasar kemudahan membagikan informasi melalui internet, seperti sosial media.

Poin Share ini dapat dilakukan sebelum atau sesudah audiens membeli produk Anda. Seluruh social media memiliki pilihan bagi audiens untuk menyebarkan informasi yang mereka lihat kepada para pengikutnya. Hal inilah yang dimanfaatkan sebagai bentuk promosi dari produk Anda.

Bukan hanya itu, audiens juga dapat menuliskan review berdasarkan pengalamannya terkait pelayanan, informasi yang diterima, hingga kualitas produk Anda. Dengan begitu, poin ini juga berpotensi menunjukkan keunggulan dari produk Anda dari segi pengguna.

Contoh Model AISAS

Untuk mengetahui lebih jelas penerapan model AISAS, RadVoice Indonesia merangkum contoh-contohnya di bawah.

1. Brand aplikasi sistem POS

Variabel AISASContoh Kasus
AttentionIndah menonton iklan aplikasi sistem POS bernama Kasir Pintar di Instagram Story.
InterestIndah yang memiliki usaha kecil tertarik mempelajari Kasir Pintar lebih lanjut.
SearchIndah dibuat penasaran dengan akun Instagram, TikTok, dan YouTube Kasir Pintar, kemudian menggali informasi lebih dalam di situsnya, hingga Google Play.
ActionIndah menganggap informasi tersebut membantu usaha kecilnya, lalu mengunduh aplikasi di Google Play. Setelah mencoba beberapa hari, Indah berlangganan Kasir Pintar Pro karena fiturnya mumpuni dan UI/UX-nya mudah dipahami. 
ShareIndah bercerita pada rekannya yang memiliki usaha kecil juga, dan merekomendasikan Kasir Pintar. Indah juga membagikan pengalamannya di Instagram Story dan mention akun Instagram Kasir Pintar. 

2. Brand kecantikan makeup bibir 

Variabel AISASContoh Kasus
AttentionNia menonton video TikTok influencer @fardina31 tentang review lip tint Dear Me Beauty.
InterestNia tertarik karena video itu ditonton 2,4 juta penonton, menginformasikan produk cocok untuk bibir kering dan formulasi ringan, dan membandingkan ulasan dari influencer lain.  
SearchIndah mencari warna lip tint Dear Me Beauty yang cocok dengan warna kulitnya dan mencari toko di TikTok Shop yang menjual produk dengan harga terjangkau.
ActionIndah memasukkan produk itu ke keranjang kuning di akun TikTok, lalu membayarnya.  
ShareIndah mencoba langsung dan menceritakan kesannya di TikTok, Instagram, Sociolla, dan Female Daily. 

3. Ulasan produk makanan cemilan khas Bandung

Variabel AISASContoh Kasus
AttentionBang Awir ingin cemilan seblak dan cilok saat musim hujan, lalu menonton konten TikTok @cuoknst di FYP-nya. 
InterestBang Awir makin ingin mengemil karena ulasan video tersebut. Konten dikemas menarik dengan tren yang relevan. 
SearchBang Awir tahu lokasi toko karena dekat dengan rumahnya, dan mencari tahu tokonya di e-commerce
ActionAkhirnya Bang Awir mampir ke Koperasi Mahasiswa untuk membeli varian beku. 
ShareBang Awir puas karena bisa membelinya langsung. Ia merekam suasana Kopma UPI, unboxing seblak dan cilok, menggorengnya, lalu mengulasnya ke TikTok.  

Kesimpulan

Sesuai berkembangnya zaman, terdapat sebuah inovasi dalam dunia copywriting, yaitu model AISAS. Model tersebut merupakan singkatan dari: 

  1. Attention – Perhatian
  2. Interest – Ketertarikan
  3. Search – Mencari
  4. Action – Tindakan
  5. Share – Membagikan

Kelima poin tersebut disusun dengan tujuan untuk menarik perhatian lebih para audiens, dan bahkan mendorong mereka untuk menyebarkan informasi terkait produk Anda.

Jadi, apakah Anda tertarik menggunakannya?


RadVoice Indonesia dapat membantu Anda menulis dan mempublikasikan blog perusahaan Anda. Berbekal pendekatan bercerita dan standar konten yang tinggi, RadVoice Indonesia akan bekerja sama dengan Anda untuk menulis artikel yang edukatif dan membuat brand Anda semakin menonjol.

Jadwalkan konsultasi online dengan RadVoice Indonesia di sini. 100% gratis, tanpa komitmen.