Belajar Memahami Uang dari Rasa Tidak Tahu: Cerita CEO Mikirduit Surya Rianto

mikirduit surya rianto

Ada orang yang masuk ke dunia keuangan karena angka. Ada juga yang masuk karena rasa ingin tahu. CEO Mikirduit Surya Rianto termasuk yang kedua.

Mikirduit merupakan media komunitas, baik melalui website maupun media sosial untuk membantu warganet memahami investasi saham, serta merencanakan keuangan agar bisa mencapai tujuan finansial.

Diakui Surya bahwa tidak semua orang masuk ke dunia finansial karena latar belakang ekonomi. Dirinya justru datang dari jalur yang sama sekali berbeda: komunikasi.

Desk Bursa dan Keputusan Polos yang Mengubah Arah

Surya tidak tumbuh dengan grafik saham atau istilah makroekonomi. Tapi satu keputusan “polos” di awal karier justru mengubah arah hidup profesionalnya sampai hari ini mengembangkan konten finansial Indonesia.

Saat pertama kali bekerja sebagai jurnalis, Surya memilih masuk ke desk bursa, pos peliputan yang dikenal paling “menantang”. Bukan karena ia paham, justru karena ia sama sekali buta.

“Katanya desk bursa ini paling menarik,” kenang Surya berbagi kisahnya kepada RadVoice.

mikirduit surya rianto
CEO Mikirduit Surya Rianto saat mengisi seminar mengenai investasi. (Foto oleh Surya Rianto)

Namun, dari situ, Surya menemukan dunia baru yang menarik dan berhubungan erat dengan jurnalistik, yakni pasar modal.

Alasannya karena semua data sudah tersedia, tinggal bagaimana jurnalis melakukan connect the dot, dan mencari narasumber untuk konfirmasi dan memahami cerita di balik angka.

“Dari titik itu saya dikenalkan dengan dunia pasar modal, mendalaminya, dan jadi ketagihan sampai sekarang yang berujung membuat mikirduit.com,” kata Surya.

Dari liputan harian, pertemuan dengan direksi emiten, hingga obrolan dengan bankir, Surya belajar satu hal penting: ekonomi bukan sekadar teori, tapi pola dan siklus yang berulang dan sangat manusiawi.

Ketagihan itu tidak pergi. Ia justru tumbuh. Sampai akhirnya bermuara pada sebuah ruang bernama Mikirduit.

Baca juga: Di Balik Layar Akun @bapak.rumahtangga: Dari Obrolan Jadi Konten Media Sosial

Keputusan “Nekat” yang Mengubah Segalanya

Ruang belajar bersama mengenai finansial Mikirduit dibangun dengan kesadaran bahwa edukasi juga perlu keberlanjutan.

“Modelnya sederhana tapi terukur: blog gratis untuk publik, komunitas berbayar untuk diskusi yang lebih dalam,” terang Surya.

Pendapatan berulang dari membership menjaga stabilitas. Kerja sama B2B tetap diseleksi dengan ketat, semuanya harus membawa nilai positif bagi audiens, platform, dan mitra.

Surya memilih bergerak pelan tapi sehat. Tidak ngebut seperti mobil F1, tapi cukup stabil untuk menghadapi perubahan siklus ekonomi yang bisa berbalik arah kapan saja. Jika ada ekspansi penambahan tim dan sebagainya diukur dengan seksama peluang dan risikonya.

“Saya sendiri memilih strategi ini karena menilai jika mengebut dengan sehat dengan segmen keuangan akan berisiko ada penurunan signifikan jika kondisi ekonomi atau market berubah 180 derajat,” kata Surya.

Semua langkah tersebut diakuinya merupakan salah satu keputusan “nekat”, yang berhasil mengubah kehidupan profesionalismenya.

Kala itu, dia memutuskan resign dari pekerjaan juru tulis tanpa pekerjaan baru dan bertahan di Solo, Jawa Tengah dengan modal terbatas. Dia pun sempat berpikir inisiasi komunitas belajar uang ini belum tentu berhasil.

“Saya bikin Mikirduit ini juga nekat. Waktu itu saya resign dari kerjaan utama dengan kondisi belum dapat kerjaan baru. Sudah coba lamar ke beberapa tempat dan wawancara, beberapa tidak deal soal salary. Lalu, saya merasa betah di Solo. Akhirnya, saya coba mencari ruang monetisasi Mikirduit yang sudah berjalan sejak awal Januari 2023, dari saat masih bekerja,” kata Surya.

Ia mengganti kekurangan modal dengan kerja keras. Menjawab satu per satu pertanyaan audiens, mencari insight, dan mendampingi. Dari ebook Mikirdividen dan grup diskusi kecil, ia menyadari betapa banyak investor ritel yang bingung dan terjebak salah kaprah.

Dari situlah lahir membership lanjutan, bukan dengan janji cuan cepat, tapi pendampingan.

“Bukan soal siapa paling cepat kaya, tapi siapa yang paling lama bertahan,” jelas Surya.

Baca juga: Dari Keresahan Menjadi ‘Kanvas Ekspresi’: Cerita Co-founder Brand Phouls Dinda Desca Pradhina

Hubungan Awal dengan Uang: Menyimpan, Bukan Mengejar

Jauh sebelum dikenal sebagai figur edukasi finansial, hubungan Surya dengan uang tergolong sederhana, bahkan konservatif. Sejak kuliah, ia terbiasa menyisihkan uang jajan sebagai cadangan, meski saat itu istilah “dana darurat” belum akrab di telinga.

Jika tak terpakai dalam beberapa bulan, uang itu berubah fungsi menjadi self-reward versi masa itu. Tidak ada investasi, tidak ada aplikasi. Uang mengendap di tabungan.

Saat mulai bekerja dan masih tinggal bersama orang tua, Surya bisa menyisihkan hampir 50 persen gajinya. Bukan karena gaya hidup frugal yang disengaja, tapi karena ia memang bukan tipe yang sering nongkrong.

Di fase inilah ia menyadari satu hal: ia terlalu hati-hati.

mikirduit surya rianto
Salah satu event ngopi darat Mikirduit Surya Rianto bersama komunitas saham dan finansial lainnya di Solo, Jawa Tengah. (Foto oleh Surya)

Surya mengatakan, tabungan berjangka, deposito, emas, semuanya memang aman, tapi nyaris tanpa pertumbuhan berarti. Reksadana sempat dilirik, tapi ditunda.

Saham bahkan belum tersentuh. Baru setelah tidak lagi menjadi jurnalis lapangan, ia mulai masuk ke instrumen yang lebih berisiko.

Ia mengakui, salah satu salah kaprah terbesarnya adalah soal timing dan keberanian. Secara teori, ia paham harus membeli saat pasar turun. Tapi secara emosional, justru takut saat momen itu datang.

“Dari situ saya belajar satu hal penting: beli saat takut, jual saat euforia, tapi dengan catatan kita paham apa yang kita beli,” tekan Surya.

Mengajak Bicara Uang Tanpa Menggurui

Tidak memiliki latar akademik finansial justru menjadi kelebihan tersendiri. Pengalaman korporat membuat Surya memahami ekonomi dari sisi yang jarang dibahas di buku teks: cara berpikir pengambil keputusan.

Bertemu langsung dengan direksi emiten dan bankir melatihnya membaca konteks, bukan sekadar headline.

Hal ini membentuk cara Mikirduit mengemas edukasi: praktis, kontekstual, dan sadar bahwa informasi finansial selalu punya dua sisi yaitu peluang dan risiko.

Surya sadar bahwa di Indonesia, uang masih sering dianggap topik sensitif. Tantangan terbesar platform yang dia bangun bukan soal data, tapi soal bahasa.

“Bagaimana menjelaskan hal teknis tanpa menyederhanakan berlebihan? Menyusun alur agar tidak menyesatkan? Dan tetap relevan untuk audiens yang sangat beragam dari pemula sampai profesional,” kata Surya.

Surya memilih pendekatan egaliter. Dalam dunia jurnalistik, ia belajar bahwa tidak ada posisi “lebih tinggi” antara narasumber, jurnalis, dan audiens.

Ia tidak pernah mengklaim satu saham bagus atau jelek. Semua tergantung strategi.

Setiap konten selalu memuat sisi positif dan negatif, bahkan berusaha mencakup “all side”, sesuatu yang jarang dilakukan analis saham.

Karena baginya, dunia keuangan tidak bisa diberi resep umum. Setiap keputusan selalu personal.

mikirduit surya rianto
Konten dibuat dengan pendekatan yang relate dengan investor pemula. (Foto oleh tangkapan layar akun Instagram Mikirduit)

Baca juga: Pendekatan Emosional Content Writer Citra Dewi dalam Menulis Konten Parenting

Uang Butuh Keseimbangan

Di tengah maraknya konten pamer cuan dan janji-janji keuntungan cuan yang besar, Surya mengingatkan bahwa investasi adalah proses, bukan sulap.

“Ada naik, ada turun, dan ada fase tidak nyaman yang harus dilewati,” kata Surya.

Dia menekankan untuk anak muda yang ingin terjun ke dunia edukasi atau bisnis berbasis konten, ada dua keahlian yang harus dimiliki yaitu skill dasar (menulis, berbicara, editing) dan skill pendukung berupa pengetahuan spesifik yang membuatmu relevan dan dipercaya.

Dan soal uang, filosofinya sederhana:

Uang itu butuh keseimbangan. Tidak perlu memaksakan cepat, tapi jangan juga terlalu lambat.

Karena hidup yang sehat secara finansial bukan tentang berlari paling kencang, melainkan berjalan konsisten, sesuai kemampuan, dan sadar di tahap mana kita sedang berada.

Kesimpulan

Pada akhirnya, cerita Surya Rianto bukan tentang bagaimana menjadi paling cepat cuan, tapi bagaimana belajar berdamai dengan proses. Tentang menerima bahwa uang, seperti hidup, punya ritmenya sendiri, kadang naik, kadang menunggu, kadang membuat kita ragu.

Lewat Mikirduit, Surya memilih berjalan pelan dengan kepala dingin, menimbang sebelum melangkah, dan mengingatkan bahwa keseimbangan sering kali jauh lebih berharga daripada angka.

Karena yang benar-benar penting bukan seberapa besar hasilnya hari ini, melainkan seberapa lama kita mampu bertahan, tumbuh, dan tetap utuh di sepanjang perjalanan.

Wawancara dengan Surya Rianto dilakukan pada Minggu, 25 Januari 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.

Artikel Terkait

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.