Merayakan Ramadan di Amerika: dari Kesepian hingga Penuh Kebersamaan

2019 menjadi tahun pertama kali bagi saya menjalani Ramadan di Amerika Serikat.

Saat itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal di Maryland, sebuah kawasan suburban yang letaknya tidak jauh dari Washington D.C.

Ramadan di negeri Paman Sam ternyata sangat berbeda dari Indonesia, terutama soal waktu puasa yang bergantung pada musim.

Kala itu Ramadan jatuh tepat di musim panas, sehingga waktu maghrib bisa mencapai pukul tujuh hingga delapan malam, membuat hari-hari puasa terasa lebih panjang dan melelahkan. Terlebih saya harus menjalani sekolah seharian sambil menahan lapar dan haus.

Namun, semua rasa lelah itu terasa lebih ringan karena saya masih menjalani Ramadan bersama keluarga. Kebersamaan itulah yang membuat Ramadan pertama saya di Amerika tetap terasa hangat.

Lima tahun berlalu, Ramadan pada 2024 menjadi pengalaman yang sangat berbeda.

Saya kembali menjalani Ramadan di Amerika, tetapi kali ini tanpa keluarga karena mereka sudah pulang ke Indonesia.

Awalnya, saya merasa takut dan khawatir. Saya tumbuh dengan kedekatan yang cukup kuat bersama keluarga, bahkan bisa dibilang mereka adalah sahabat terdekat saya.

Saya sempat berpikir Ramadan ini akan terasa sepi dan berat. Nyatanya, justru sebaliknya.

Mulai Aktif di Komunitas Muslim Amerika Serikat

Andriana merayakan Ramadan bersama teman-temannya di Amerika Serikat. (Semua foto oleh Andriana)

Di universitas, saya mulai aktif bergaul dengan Muslim Student Association (MSA), komunitas mahasiswa Muslim di kampus.

Selama Ramadan, mereka mengadakan banyak kegiatan, mulai dari halaqah (diskusi agama Islam), salat tarawih (salat malam khusus Ramadan) bersama, hingga acara buka puasa.

Awalnya saya diajak oleh seorang teman untuk ikut buka bersama, dan dari situlah rasa kesepian saya perlahan hilang. Saya bertemu banyak teman baru yang kemudian menjadi orang-orang terdekat saya selama masa kuliah.

Di luar kampus, saya juga mulai mengikuti berbagai kegiatan remaja Muslim di sekitar Maryland. Beberapa di antaranya adalah acara Night Ramadan, sebuah halaqah yang dikemas dengan gaya Gen Z, santai dan relevan dengan kehidupan kami.

Dari kegiatan-kegiatan ini, saya bertemu banyak Muslim dengan latar belakang yang sangat beragam. Interaksi itu membuka perspektif saya dan membuat Ramadan terasa lebih hidup, meski jauh dari rumah.

Bergaul Dengan Komunitas Indonesia

Saya mulai terlibat dalam kegiatan komunitas Muslim Indonesia di daerah Maryland, Amerika Serikat (Tangkapan layar artikel di Voice of America Indonesia).

Selain komunitas Muslim internasional, saya juga semakin dekat dengan komunitas Indonesia.

Saya terlibat dalam berbagai kegiatan komunitas di masjid Indonesia bernama IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) Center. Saya mengikuti berbagai acara, membantu kegiatan, dan berinteraksi lebih dekat dengan jamaah lainnya.

Dari situ, saya mendapatkan banyak teman baru, kebanyakan dari mereka juga tinggal sendiri di Amerika Serikat, jauh dari keluarga.

Saya juga sempat diwawancarai oleh Voice of America (VOA) untuk membagikan pengalaman menjalani Ramadan jauh dari keluarga. Jujur saja, wawancara itu terasa seperti tamparan.

Untuk pertama kalinya, saya benar-benar diminta menjelaskan apa yang saya rasakan, sekaligus membandingkan dua situasi yang sangat berbeda: Ramadan bersama keluarga dan Ramadan sendirian di perantauan.

Pertanyaan-pertanyaan itu memaksa saya berhenti sejenak dan merenung. Dari situ, saya menyadari bahwa rasa rindu dan sepi memang nyata, tetapi justru pengalaman inilah yang membuat saya lebih menghargai kehadiran keluarga dan arti kebersamaan, meski bentuknya kini berbeda.

Merayakan Idulfitri Jauh Dari Keluarga

Sempat khawatir akan sendiri saat Idul Fitri, tapi ternyata malah merayakan dengan teman-teman yang sendiri juga

Menjelang Idulfitri, ada satu rasa yang paling saya takuti: sendirian.

Hampir semua teman dekat saya adalah warga lokal atau memiliki keluarga yang menetap di Amerika Serikat. Wajar kalau mereka merayakan Lebaran bersama keluarga masing-masing.

Pikiran itu sempat membuat saya cemas, takut harus menjalani hari besar sendirian. Untungnya, hari itu saya ditemani oleh seorang teman, Fadhila.

Setiap Lebaran, KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) biasanya mengadakan acara di Wisma Indonesia, kediaman duta besar. Dulu, saya selalu datang bersama keluarga. Kali ini berbeda, saya datang bersama Fadhila, teman dekat saya.

Meski suasananya tetap hangat, rasa khawatir itu belum sepenuhnya hilang. Saya sempat berpikir, setelah acara di Wisma Indonesia selesai, apakah saya akan benar-benar sendirian? 

Biasanya, setelah acara resmi KBRI, Diaspora Indonesia melanjutkan silaturahmi ke rumah-rumah warga. Namun, tidak semua orang diundang.

Saya termasuk yang tidak, karena kebanyakan dari mereka lebih dekat dengan orang tua saya. Saya juga khawatir Fadhila pulang ke tempat ibunya, karena mereka memang tinggal berdua di Amerika.

Meski begitu, hari itu tidak berakhir seperti yang saya bayangkan.

Malam Idulfitri saya tutup dengan menonton film bersama teman-teman lain yang juga merayakan Lebaran jauh dari keluarga. Kami sama-sama sendiri, dan justru dari situ tercipta momen yang hangat dan tak terlupakan.

Ramadan yang awalnya saya takuti justru berubah menjadi momen yang mempertemukan saya dengan banyak orang dan komunitas baru.

Ramadan 2024 menjadi Ramadan pertama yang saya jalani sepenuhnya sendiri, sekaligus yang terakhir saya habiskan di Amerika Serikat.

Setelah enam tahun merayakan Ramadan di negeri dengan budaya yang berbeda, saya bersyukur bisa menyimpan begitu banyak kenangan, meski rasa kekeluargaan tidak selalu terasa seperti di rumah.

Ramadan yang awalnya saya takuti justru berubah menjadi momen yang mempertemukan saya dengan banyak orang dan komunitas baru.

Jauh dari keluarga, saya belajar bahwa kebersamaan bisa hadir dalam bentuk yang berbeda di setiap tempat.

Pengalaman ini tidak selalu mudah, tetapi memberi saya pemahaman baru tentang arti merayakan Ramadan di perantauan.

Artikel Terkait

Fill in the form, and we will get back to you within one business day.

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.