Dari Cibubur ke Washington D.C., Sir Satrio membawa Disconesia dari gig kecil di kalangan teman-temannya hingga tampil di festival Indonesia di Washington D.C dan berbagai event di New York.
Konsistensinya membuat namanya dikenal di kalangan diaspora dan pecinta musik lawas Indonesia.
Sebagai Gen Z, ia memakai Instagram bukan cuma untuk promosi, tapi juga sebagai ruang kurasi musik disko, funk, dan jazz Indonesia untuk audiens global.
Setiap penampilannya punya ciri khas sederhana tapi ikonik: DJ booth, musik lawas Indonesia, dan segelas air kelapa di tangan.
Bagaimana Sir Satrio membangun personal branding Disconesia hingga dikenal di kalangan diaspora dan audiens global? RadVoice Indonesia telah mewawancarai Sir Satrio untuk mendengarkan ceritanya. Berikut selengkapnya.
Awal Mula Menemukan Musik Lawas Indonesia

Perjalanan musik lawas Sir Satrio berawal dari masa SMA, ketika selera musiknya masih didominasi hip-hop Amerika seperti Kanye West dan Kendrick Lamar. Teguran dari ibunya karena kata-kata kasar dalam lagu tersebut, membuatnya mulai mencari referensi lain.
Di tengah dominasi lagu pop, ia justru menemukan musik Indonesia era 70-an dan 80-an lewat YouTube.
Pertemuannya dengan lagu “Sesaat Kau Hadir” dari Utha Likumahuwa dan “Barcelona” dari Faris RM menjadi titik balik.
“Wah, Faris RM ini jenius. Gaya musiknya kayak tiada duanya,” katanya.
Dari situ, algoritma membawanya masuk ke rilisan funk, disco, dan jazz Indonesia yang lebih dalam.
Lalu, pengalaman pindah ke Amerika Serikat dan melihat berbagai gerakan musik lawas seperti Disco Tehran, Habibi Funk, dan Dar Disku semakin meyakinkannya bahwa musik bisa melampaui bahasa dan batas negara.
“Yang penting musiknya asik, kita nggak usah ngerti bahasanya,” ujarnya.
Dari keyakinan itu, lahirlah Disconesia.
Bagaimana Media Sosial membuat Disconesia Lebih Terlihat

Sir Satrio baru tampil di 53 Restaurant yang berada di dalam Museum of Modern Art, museum bergengsi di New York. Kesempatan itu datang tanpa proposal atau pendekatan formal. Manajer restoran menemukannya lewat internet, dari unggahan-unggahan yang selama ini ia buat secara konsisten di akun Disconesia.
Sejak awal mendirikan Disconesia, ia tidak memposisikan Instagram sebagai alat pemasaran. Ia hanya mengunggah potongan video lagu lawas yang ia sukai.
“Sebenarnya gue nggak pernah mikirin marketing. Gue cuma sekadar nge-share musik-musik sih.”
Namun di balik pernyataan itu, ada pola yang konsisten. Ia rutin mengunggah music archive, foto-foto dari DJ set Disconesia, dan baru-baru ini mengunggah video DJ set bersama DJ lain speerti Discotehran.
Menurutnya, inilah perbedaan paling terasa antara Gen Z dan generasi sebelumnya.
Jika dulu musisi bergantung pada label, radio, atau koneksi industri untuk mempromosikan karya, kini internet membuka jalur distribusi yang lebih langsung dan lebih terbuka.
Dampaknya ia rasakan langsung saat tampil. Banyak audiens, termasuk non-Indonesia, mengenal disco, funk, dan jazz Indonesia lewat unggahannya.
Permintaan song ID hingga minta dibuatkan playlist di tempat menjadi hal yang sering terjadi. Ia juga kerap membagikan ulang mention dari audiens di Instagram Story , sehingga interaksi tetap berjalan bahkan setelah acara selesai.
Baginya, internet bukan hanya alat promosi, tetapi jembatan yang mempertemukan musik lawas Indonesia dengan pendengar baru.
Jadi Opening Act Untuk Grrrl Gang di Tur Amerika Serikat

Kesempatan menjadi pembuka untuk tur Amerika Serikat milik Grrrl Gang, pop band asal Yogyakarta, datang tanpa rencana besar. Awalnya, ia hanya mengirim pesan singkat untuk membuka satu kota saja. Respons yang datang justru lebih besar dari ekspektasi.
Sir Satrio mengatakan jika ia hanya mengirim pesan di Instagram dengan Isang untuk menjadi opening act saat Grrrl Gang manggung di Washington D.C., tempat Sir Satrio tinggal, namun berujung dengan ketidaksangkaan.
“Gue juga nggak nge-expect mereka nge-reply gitu, eh tiba-tiba pas dibales, ‘oh ini Disconesia ya, kita tahulah dari teman’ terus dia bilang, ‘Gimana kalau lu ikut aja satu tour gitu,’ Wah itu gila sih.” ucapnya mengenang.
Momen itu datang di pagi hari, tepat setelah ia bangun tidur, “Begitu membaca itu, gue baru bangun langsung lompat dari kasur.”
Tur ini bukan ia anggap sebagai garis akhir. Baginya, pengalaman tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanannya memperluas panggung ke audiens yang lebih besar.
Manggung di Tanah Sendiri, Berbagi Panggung dengan Idola

Saat liburan ke Indonesia, Sir Satrio sempat tampil bersama Alunan Nusantara, kolektif yang fokus membangkitkan musik lawas Indonesia.
Malam itu, ia juga tampil dengan Diskoria, yang ia sebut sebagai salah satu tokoh penting revival Indonesian disco.
“Malam itu sangat berharga dalam perjalanan Disconesia. Bisa tampil bareng Diskoria juga,” kata Sir Satrio. Ia telah mengenal anggota Alunan Nusantara jauh sebelum kolektif itu terbentuk.
Mereka terhubung sebagai sesama kolektor kaset lawas yang aktif berbagi temuan musik di Instagram.
“Bisa kerja bareng mereka dalam acara yang sama itu benar-benar full circle moment,” ujarnya.
Soal kolaborasi impian, Sir Satrio menyebut White Shoes and the Couples Company sebagai salah satu musisi yang ingin ia ajak bekerja sama.
“Kalau mereka tur ke Amerika, gue ingin banget jadi opening act. Gue ngefans banget sama mereka,” katanya.
Musik Sebagai Ruang Advokasi

di Washington D.C.
Dalam beberapa penampilan, ia kerap mengenakan Keffiyeh, kain tradisional Palestina, karena ia ingin membawa simbol yang ia anggap penting.
Baginya, panggung bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga ruang dengan konsekuensi. Ada perhatian, ada audiens, dan itu berarti ada pengaruh.
Ia melihat posisi seniman sebagai sesuatu yang tidak netral. Setiap kali berdiri di atas panggung, menurutnya, ada ruang untuk menyampaikan sikap.
“Di mana ada panggung ya disitu lu punya power kan untuk ngomong apa aja,” ujarnya.
Sikap itu, katanya, bukan soal citra atau strategi. Ia menyuarakan isu yang menurutnya personal dan mendesak, termasuk soal Palestina, sebagai respons terhadap situasi yang ia anggap tidak adil.
Kesimpulan
Pada akhirnya, personal branding Sir Satrio tidak dibangun lewat kampanye besar yang dibuat-buat. Ia hanya konsisten membagikan perjalanan Disconesia dan musik lawas Indonesia di Instagram. Bukan untuk mengejar algoritma, tetapi karena itu memang musik yang ia dengarkan dan kurasi sendiri. Dari kebiasaan yang sederhana itu, audiens tumbuh dan peluang datang.
Citra panggungnya pun lahir dari pilihan personal. Segelas air kelapa yang selalu ia bawa saat DJ set menjadi bagian dari identitasnya. Itu bukan gimmick, melainkan cara menjaga energi tanpa alkohol, yang kemudian justru melekat sebagai ciri khas.
Hal yang sama terlihat dari Keffiyeh yang kerap ia kenakan saat tampil. Baginya, panggung adalah ruang dengan konsekuensi. Mengenakan simbol tersebut bukan soal citra, tetapi bentuk sikap atas isu yang ia anggap personal dan mendesak.
Lewat konsistensi dan pilihan yang ia pegang sendiri, Disconesia tumbuh lebih dari sekadar proyek DJ set. Ia menunjukkan bahwa DJ Gen Z di Amerika Serikat bisa membangun identitas yang autentik sambil tetap membawa musik lawas Indonesia ke panggung internasional.
Wawancara dengan Sir Satrio dilakukan pada 16 Februari 2026. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas dan jelas.