General Assembly (GA) Hall di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, dipenuhi 193 delegasi dari berbagai negara anggota.
Pada 22 September 2025, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-80. Forum tersebut secara khusus membahas Konferensi mengenai Palestina dan Solusi Dua Negara.
Saat Prabowo sedang menyampaikan pidato, mikrofon tiba-tiba mati karena beliau telah kehabisan jatah waktu berbicara selama lima menit.
Beruntung, suara Prabowo yang menggelegar masih menembus sekat ruang pers wartawan. Beberapa penggalan kalimat tetap terdengar, meski tidak utuh.
Itulah kesan Kuntum Khaira, jurnalis Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA desk internasional, saat meliput langsung jalannya Sidang Umum PBB hari itu.
“Satu hal yang kami, para wartawan, ingat betul adalah ‘peace, peace now, peace immediately‘,” ujar Kuntum.
Tak lama berselang, mikrofon kembali menyala. Prabowo melanjutkan pidatonya, yang kemudian disambut tepuk tangan para peserta konferensi.
“Untuk pembahasan tentang Palestina, untuk pertama kalinya aku benar-benar bisa masuk ke hall utamanya. Yang aku rasakan, jujur, merinding,” tutur Kuntum.
Berikut cerita menarik Kuntum Khaira selama meliput Sidang Umum PBB dari hasil wawancara RadVoice Indonesia.
Panik hingga Mengandalkan Suara Presiden Tanpa Mikrofon

“Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, Prabowo menjadi Presiden yang hadir langsung di markas besar PBB,” ujar Kuntum.
Saat Prabowo menyampaikan pidato, Kuntum bersama para wartawan lainnya sempat panik karena mikrofon Prabowo sempat mati.
“Karena suaranya tidak muncul, kita berusaha untuk mendengarkan sayup-sayup secara langsung suara dari Pak Prabowo, karena podium tidak dibatasi kaca dengan ruangan pers,” kata Kuntum.
“Saat itu wartawan pasti panik, karena kita harus tahu begitu apa yang disampaikan oleh Presiden. Pendengaran kita tidak sampai untuk mendengarkan pidato lengkap Presiden,” lanjutnya.
Begitu keluar dari ruangan, Kuntum bersama tim jurnalis lain langsung saling bertanya. Mereka mendatangi tim pendamping dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), berharap ada pihak yang masih bisa menangkap isi pidato secara utuh.
“Tapi ternyata memang tidak ada yang mendengar,” ujar Kuntum.
Di dalam ruang sidang, situasi tampak berbeda. Dengan suara Prabowo yang besar, mantan Danjen Kopassus itu tetap melanjutkan pidatonya. Para kepala negara dari perwakilan negara lain tetap fokus menyimak pidato Presiden.
Baca Juga: Jurnalis ANTARA Agatha Olivia Liputan di Lapas Nusakambangan
Terbatasnya Ruang Pers & Mengalah dengan Jurnalis Amerika Serikat

Setibanya di lokasi peliputan, bilik pers yang tersedia terasa sesak. Sejumlah wartawan pun mencoba mengecek bilik lain, berharap ada tempat kosong.
Namun apa daya, ruangan lain ternyata sudah disiapkan untuk ditempati wartawan Amerika Serikat yang datang dengan perlengkapan yang lebih lengkap dan ukuran kamera yang lebih besar untuk mengabadikan pidato presiden mereka, Donald Trump.
“Yang ngalah sama wartawan Amerika itu bener banget. Amerika kan mereka berada di sana gitu, tuan rumahnya,” ujar Kuntum.
“Secara fisik, mereka lebih besar ya badannya dibanding kita, jadi cukup terintimidasi,” tambahnya.
Beberapa wartawan Indonesia mencoba mencari bilik lain, lalu menemukan ruangan yang lebih lebar dan sedikit lebih luas.
“Hanya saja menjelang pidato itu dimulai, ternyata (bilik) itu buat wartawan dari Amerika, jadi mau enggak mau kita harus ngalah,” ungkap Kuntum.
Baca Juga: Cerita Jurnalis ANTARA Liputan PLTS di Abu Dhabi
Menjadi Titik Puncak Pencapaian Karier Sebagai Jurnalis

Bagi Kuntum, meliput Sidang Umum PBB menjadi salah satu pencapaian tertinggi dalam perjalanan kariernya sebagai jurnalis.
“Ini bener-bener liputan yang sangat berkesan dan bisa paling aku banggakan sepanjang karir aku di jurnalis,” kata Kuntum.
Dari liputan itu, Kuntum mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana kebijakan berskala internasional dirumuskan.
“Liputan di Sidang PBB ini membuka wawasan aku lebih luas lagi tentang bagaimana diplomasi internasional itu bekerja, dan betapa pentingnya sebuah diplomasi itu dilakukan dengan baik,” ujarnya.
“Bagaimana sebenarnya kita tidak boleh hanya mementingkan kepentingan yang terjadi di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri,” sambungnya.
Menurut Kuntum, kebijakan luar negeri tak bisa dilepaskan dari kepentingan domestik. Namun, fokus yang semata-mata ke dalam negeri juga berisiko menimbulkan dampak yang merugikan di tingkat global.
Kesimpulan
Kuntum Khaira, Jurnalis LKBN ANTARA, meliput penyampaian pidato Presiden RI Prabowo dalam Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di New York, Amerika Serikat.
Adapun berbagai tantangan Kuntum harus hadapi selama liputan di sana, yaitu mikrofon yang sempat mati, hingga mengalah dengan wartawan Amerika Serikat.
Liputan di Sidang PBB membuka wawasan Kuntum lebih luas tentang bagaimana diplomasi internasional itu bekerja.
Wawancara dilakukan dengan Kuntum Khaira pada Kamis, 25 Desember 2025. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.