Dalam sepekan terakhir, sejumlah isu menarik perhatian publik di Indonesia, mulai dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang dampaknya terasa hingga Jabodetabek, hingga kontroversi buku Islam Ala Prabowo setelah sejumlah tokoh mempertanyakan pencantuman nama mereka sebagai kontributor.
Di sisi lain, sejumlah isu terkait perempuan juga menjadi perhatian. Penyanyi Olivia Rodrigo mengenakan busana dari merek Palestina dan menggunakan panggung Daisy Chain Fields untuk membawa pesan tentang pemberdayaan perempuan. Sementara itu, sebuah brand lokal menuai kritik setelah menjual kaos dengan tulisan vulgar yang dinilai misoginis dan seksis.
Berikut rangkuman isu yang menjadi perhatian publik dalam sepekan terakhir versi RadVoice Indonesia.
Erupsi Anak Krakatau Picu Dampak Berantai hingga Ganggu Penerbangan dan Sekolah

Summary
Erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 menimbulkan dampak luas di Lampung, Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat. Sebaran abu vulkanik mengganggu penerbangan, kualitas udara, dan kegiatan belajar.
Hingga 7 September, sebanyak 1.558 penerbangan dilaporkan tertunda dan sekitar 170.000 penumpang terdampak. Sementara sejumlah daerah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Why It Matters
Erupsi ini menunjukkan bagaimana bencana vulkanik dapat menimbulkan dampak berantai terhadap aktivitas publik. Gangguan tidak hanya terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau, tetapi juga meluas ke transportasi udara, kualitas udara Jakarta, serta kegiatan pendidikan di sejumlah wilayah.
Hal ini menunjukkan pentingnya respons lintas sektor untuk melindungi masyarakat sekaligus menjaga layanan dan aktivitas penting tetap berjalan.
Key Insight
Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu efek domino yang meluas. Abu vulkanik mengganggu penerbangan dan kualitas udara, sementara dampaknya terhadap aktivitas belajar-mengajar membuat sekolah di sejumlah daerah seperti Jakarta, Banten, Lampung, Depok, dan Bogor menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Fashion Olivia Rodrigo Bawa Pesan Sosial di Daisy Chain Fields

Summary
Olivia Rodrigo mengenakan gaun rancangan Nöl Collective, merek asal Palestina, saat konferensi pers festival Daisy Chain Fields pada 27 Agustus 2026. Gaun tersebut menampilkan Tatreez, sulaman tradisional Palestina dengan motif burung dan bunga daisy yang memiliki makna kebebasan dan warisan antargenerasi.
Pilihan busana ini sejalan dengan pesan sosial festival yang berfokus pada perempuan, yang mengalokasikan US$10 juta kepada 10 organisasi nirlaba yang mendukung hak reproduksi, kesehatan mental, kesehatan ibu, serta pemberdayaan perempuan dan anak perempuan.
Why It Matters
Fashion tidak hanya menjadi bagian dari ekspresi gaya, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan nilai, identitas, dan pesan sosial. Riset tentang fashion sebagai ekspresi politik menunjukkan bahwa pakaian dapat menjadi medium untuk menyampaikan simbol, solidaritas, dan dukungan terhadap suatu gerakan atau isu.
Key Insight
Gaun dari merek Palestina dengan detail Tatreez tidak hanya menampilkan unsur budaya, tetapi juga membawa pesan tentang warisan dan pemberdayaan perempuan. Pesan tersebut menjadi semakin kuat karena hadir dalam festival yang menggabungkan musik dengan dukungan terhadap isu perempuan.
Unggahan Istri Gubernur Kalteng Soroti Kekayaan Jutaan Rupiah

Summary
Istri Gubernur Kalimantan Tengah, Aisyah Thisia Agustiar, menjadi sorotan setelah tangkapan layar yang diduga berasal dari fitur Close Friends Instagram-nya beredar di media sosial.
Unggahan tersebut menampilkan nominal Rp460 juta dan informasi mengenai arisan eksklusif, yang memicu pertanyaan publik mengenai gaya hidup dan sumber kekayaan pejabat.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) per 31 Maret 2026, Agustiar tercatat memiliki total kekayaan Rp164,18 miliar, dengan Rp110,07 miliar di antaranya berupa kas dan setara kas.
Why It Matters
Kasus ini menunjukkan bagaimana unggahan pribadi keluarga pejabat dapat berkembang menjadi isu transparansi dan akuntabilitas publik ketika berkaitan dengan gaya hidup dan kekayaan pejabat negara. Hal ini menjadi semakin menarik perhatian karena terjadi di Kalimantan yang masih menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu masyarakat dan lingkungan.
Viralnya unggahan tersebut kemudian mendorong masyarakat untuk menelusuri data LHKPN dan mempertanyakan apakah kekayaan yang dilaporkan sejalan dengan gaya hidup yang ditampilkan.
Key Insight
Dugaan pamer harta oleh istri Gubernur Kalimantan Tengah memicu perhatian publik terhadap transparansi kekayaan pejabat, terutama setelah informasi mengenai saldo Rp460 juta dan arisan beredar luas. Perbincangan tersebut kemudian meluas setelah publik kembali menyoroti data LHKPN Agustiar yang mencatat kekayaan Rp164,18 miliar.
Kaos Vulgar SSS Department Picu Kritik hingga Report Massal

Summary
Sebuah brand lokal, SSS Department, menuai kritik di X setelah meluncurkan kaos dengan tulisan vulgar yang dinilai misoginis dan seksis. Perdebatan publik kemudian berkembang menjadi aksi report massal hingga akun brand tersebut dilaporkan hilang.
Kasus ini muncul setelah desain kaos tersebut mendapat perhatian luas dan dipertanyakan karena dianggap tidak pantas digunakan di ruang publik.
Why It Matters
Kontroversi ini menunjukkan bagaimana strategi pemasaran yang mengandalkan humor vulgar dapat menimbulkan risiko reputasi bagi brand. Respons publik yang cepat juga memperlihatkan bahwa audiens dapat memberikan tekanan langsung kepada brand ketika produk atau materi promosinya dianggap melewati batas kepantasan.
Key Insight
Kontroversi SSS Department menunjukkan bahwa strategi marketing berbasis humor dan tren perlu mempertimbangkan konteks sosial serta potensi respons publik. Upaya menarik perhatian melalui desain provokatif dapat berubah menjadi krisis reputasi ketika audiens menilai pesan yang disampaikan sebagai misoginis atau seksis.
Baca juga: Weekly Issues Recap: 5 Sorotan Pekan Ini, dari Gempa Flores hingga Demo BEM UI
Tiga Tokoh Bantah Terlibat dalam Buku Islam Ala Prabowo

Summary
Buku berjudul “Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” pertama kali diterbitkan pada April 2025 dan diluncurkan pada 26 Agustus 2025 menjadi sorotan setelah sejumlah tokoh membantah dan mempertanyakan keterlibatan mereka sebagai kontributor.
Buku ini disusun oleh Abdur Rahim Hasan, seorang penulis dan akademisi yang banyak mengkaji pemikiran Islam kontemporer, serta Rikal Dikri dan Mush’ab Muqoddas, peneliti muda dengan latar belakang pesantren yang aktif dalam kajian dan literasi Islam. Buku ini diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House.
Muhammad Zainul Majdi (TGB), Gus Kautsar, dan Said Aqil Siradj disebut membantah atau mempertanyakan pencantuman nama mereka dalam buku tersebut. Sementara itu, Asep Saifuddin Chalim mengonfirmasi bahwa ia memang menulis bagian epilog buku.
Why It Matters
Kontroversi ini menyoroti pentingnya akurasi dan verifikasi informasi dalam publikasi yang membahas tokoh politik, terutama ketika menyangkut identitas dan pernyataan seseorang.
Hal ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap misinformasi dan menurunnya kepercayaan publik terhadap informasi.
Key Insight
Sorotan terhadap Islam Ala Prabowo bergeser dari isi buku mengenai keislaman dan kepemimpinan Prabowo ke persoalan kredibilitas proses penyusunannya.
Meski buku secara resmi disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas, keterlibatan sejumlah nama yang tercantum sebagai kontributor kini dipertanyakan setelah beberapa tokoh membantah pernah mengirimkan tulisan atau mengetahui pencantuman nama mereka.
