TAIPEI – Di tengah gelaran internasional Smart City Summit & Expo (SCSE) 2026 pada 17-20 Maret 2026 di Taipei, Taiwan, delegasi Indonesia hadir dengan membawa pesan yang cukup jelas: inovasi Tanah Air tidak lagi berhenti di level ide, tetapi mulai masuk ke panggung global.
Melalui Indonesia Prima, mitra strategis dalam pengembangan bisnis, tiga startup Indonesia tampil bersama peserta dari berbagai negara, termasuk Australia, Jepang, Thailand, Korea Selatan, dan India. Mereka adalah TechnoGIS, Ravelware, dan Optibis.io.
SCSE sendiri merupakan salah satu ajang teknologi kota pintar terbesar di Asia, yang mempertemukan pemerintah kota, perusahaan teknologi, hingga startup dari berbagai belahan dunia.
Tahun ini, delegasi dari puluhan negara dan ratusan kota hadir untuk berbagi solusi seputar kecerdasan buatan (AI), energi berkelanjutan, hingga transformasi digital di level perkotaan.

Di dalam area pameran, percakapan terjadi lintas bahasa dan latar belakang, mulai dari pejabat kota, insinyur, hingga pelaku startup.
Berbagai paviliun negara dan perusahaan global berdiri berdampingan, menegaskan bahwa pengembangan kota pintar kini menjadi agenda bersama yang melampaui batas negara.
Kesan serupa juga dirasakan oleh Fanky Christian, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas), yang turut hadir bersama delegasi teknologi informasi Indonesia. Ia melihat bagaimana hampir seluruh solusi yang ditampilkan tahun ini berpusat pada kecerdasan buatan, mulai dari sistem kota pintar hingga inisiatif Net Zero.

Menurut Fanky, kehadiran delegasi Indonesia di ajang seperti ini menjadi penting bukan hanya untuk melihat perkembangan teknologi global, tetapi juga untuk memahami bagaimana solusi tersebut bisa diterapkan di konteks kota di Indonesia.
Ia juga menyoroti bahwa meski belum banyak solusi Indonesia yang tampil di panggung besar seperti ini. kehadiran startup seperti TechnoGIS menjadi sinyal awal bahwa inovasi lokal mulai ikut masuk dalam percakapan global.
Di tengah tema besar Digital and Green Transformation, kehadiran startup Indonesia menawarkan tema yang dekat dengan kebutuhan kota masa depan: dari teknologi geospasial hingga inovasi ramah lingkungan.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah teknologi pengolahan limbah botol plastik menjadi material grafena. Pendekatan ini terasa relevan dengan arah pengembangan kota berkelanjutan, terutama ketika banyak kota kini dituntut tidak hanya lebih cerdas, tetapi juga lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Ketika Indonesia Masuk ke Ruang Ekosistem yang Lebih Besar
Kehadiran TechnoGIS, Ravelware, dan Optibis.io menunjukkan bahwa inovasi Indonesia mulai dibawa ke ruang yang lebih luas. Mereka hadir di panggung besar, di mana startup bertemu langsung dengan calon mitra internasional, investor, dan pelaku industri dari berbagai negara.
Menurut Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, partisipasi ini selaras dengan dorongan Indonesia terhadap transformasi digital, target Net Zero Emission, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Direktur Utama Indonesia Prima, Dyah Yusuf, mengatakan keikutsertaan startup Indonesia di ajang ini dapat membuka jalur kerja sama baru. “Keterlibatan ini diharapkan mampu membuka peluang baru bagi startup lokal untuk terhubung dengan ekosistem global,” ujarnya.
Sementara itu, Ravelware Technology menilai keikutsertaannya di SCSE 2026 merupakan langkah strategis untuk membawa inovasi material maju dari Indonesia ke panggung global, terutama dalam mendukung pengembangan kota pintar yang berkelanjutan.
Dalam keterangannya, Ravelware menyebut SCSE sebagai platform penting untuk memperkenalkan pendekatan baru dalam pembangunan kota, di mana teknologi tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga keberlanjutan.

Perusahaan itu juga menampilkan inovasi berbasis graphene sebagai solusi utama untuk konsep green city. Menurut Ravelware, graphene bukan hanya material canggih, tetapi juga enabler untuk menciptakan sistem yang lebih efisien, tahan lama, dan ramah lingkungan.
Dari sisi geospasial, TechnoGIS juga membawa solusi andalannya, yaitu platform iT Sensing, yang dikembangkan untuk mengolah data satelit menjadi informasi yang aplikatif bagi kebutuhan industri dan perencanaan infrastruktur.
CEO TechnoGIS, Sarono, mengatakan keikutsertaan dalam ajang ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekspansi global perusahaan.“Smart City Expo Taiwan merupakan platform yang sangat relevan bagi pengembangan iT Sensing sebagai cloud geospatial and monitoring platform,” ujarnya.

Dari Booth ke Peluang Kolaborasi
Di lapangan, respons terhadap delegasi Indonesia juga cukup positif.
Sarono menyebutkan bahwa TechnoGIS berhasil membuka kolaborasi di lebih dari tujuh negara lintas Asia, Afrika, dan Eropa, yang akan menjadi hub strategis bagi ekspansi global perusahaan.
Bagi Indonesia, keikutsertaan di SCSE 2026 memberi sinyal bahwa startup Tanah Air mulai dipandang sebagai pemain yang membawa solusi nyata, bukan sekadar peserta tambahan di pameran internasional.
Dari teknologi geospasial hingga pengolahan limbah, kehadiran mereka menunjukkan bahwa inovasi Indonesia mulai mendapat tempat di percakapan global soal kota pintar dan pembangunan berkelanjutan.
Adinda Pryanka menghadiri SCSE 2026 atas undangan Taipei Computer Association.