Ketika persepsi publik terbentuk lintas batas negara, liputan media asing bukan lagi sekadar “bonus eksposur”, melainkan aset strategis yang dapat mengangkat reputasi brand ke level global.
Bagi banyak brand hospitality, lifestyle, hingga pariwisata, validasi dari media internasional sering kali menjadi pembeda antara dikenal secara lokal dan diakui secara global.
Lalu, seberapa besar sebenarnya dampaknya? Dan bagaimana brand bisa mencapainya secara organik?
RadVoice Indonesia akan membahasnya dengan studi kasus dari publikasi House of Tugu Jakarta, yang tayang pada TIME Magazine.

Case Study: House of Tugu Jakarta di TIME Magazine
Salah satu contoh kuat bagaimana liputan media asing membentuk reputasi brand adalah House of Tugu Jakarta, yang masuk dalam daftar “World’s Greatest Places 2026” oleh TIME Magazine.
Apa yang Disorot oleh TIME?
Dalam artikelnya, TIME tidak hanya menampilkan House of Tugu sebagai hotel, tetapi sebagai pengalaman budaya yang mendalam. Beberapa poin utama yang diangkat:
1. Perpaduan Sejarah dan Hospitality
House of Tugu diposisikan sebagai properti yang menghidupkan kembali nuansa Batavia lama. Bangunan, interior, dan koleksi seni di dalamnya menjadi bagian dari storytelling yang kuat.

2. Kurasi Artefak dan Narasi Budaya
TIME menyoroti bagaimana hotel ini bukan sekadar tempat menginap, tetapi juga “living museum” yang menampilkan artefak, cerita, dan warisan budaya Indonesia, khususnya Peranakan dan sejarah Jakarta.
3. Pengalaman yang Berbeda dari Hotel Konvensional
Alih-alih fokus pada fasilitas modern semata, House of Tugu menawarkan pengalaman emosional dan historis. Ini menjadi diferensiasi yang sangat menarik bagi audiens global.
4. Lokasi Strategis di Kota Tua Jakarta
Penempatan di kawasan Old Town atau Kota Tua Jakarta memperkuat narasi warisan budaya dan menjadikan hotel ini bagian dari perjalanan eksplorasi sejarah kota.
Kaitan dengan Strategi Storytelling
House of Tugu berhasil membangun storytelling yang:
- Konsisten (heritage atau kisah mengenai warisan budaya sebagai narasi utama)
- Emosional (menghidupkan memori dan sejarah)
- Autentik (berbasis koleksi dan kurasi nyata, bukan sekadar konsep)
Dampak Diliput Media Asing
Berkaca dari case study House of Tugu Jakarta yang diliput media asing, ternyata hal ini membawa efek yang jauh melampaui angka readership. Ada tiga dampak utama yang paling terasa:
1. Kredibilitas Instan di Mata Audiens Global
Media internasional seperti TIME, Forbes, atau Condé Nast Traveler memiliki reputasi editorial yang kuat. Ketika sebuah brand muncul di sana, ia mendapatkan “borrowed trust”, kepercayaan yang ditransfer dari media kepada brand. Ini sulit ditiru oleh kampanye iklan biasa.
2. Peningkatan Positioning Brand
Brand yang sebelumnya dipersepsikan sebagai lokal dapat naik kelas menjadi “global player”.
Ini sangat penting untuk sektor seperti hospitality, di mana wisatawan internasional cenderung memilih brand yang sudah tervalidasi oleh media global.
3. Efek Domino terhadap Eksposur Lain
Satu liputan media asing sering memicu coverage lanjutan, baik dari media lain, influencer, hingga user-generated content.
Dalam banyak kasus, satu publikasi besar dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan secondary mentions, atau penyebutan lanjutan dari pihak pembaca.
Baca juga: Strategi Storytelling House of Tugu Jakarta dalam Memperkenalkan Warisan Budaya Indonesia
Bagaimana Agar Brand Diliput Media Asing
Mendapatkan liputan media asing bukan soal keberuntungan, melainkan hasil dari strategi komunikasi yang tepat. Beberapa pendekatan yang terbukti efektif:
A. Storytelling yang Relevan Secara Global
Media internasional tidak hanya mencari hal yang bagus, tetapi juga yang punya cerita. Brand perlu mengemas narasi yang memiliki nilai universal, misalnya heritage, sustainability, keunikan budaya, atau inovasi.

B. Nilai Berita yang Jelas
Brand harus memiliki angle yang layak diberitakan. Ini bisa berupa pembukaan properti unik, konsep baru, pengalaman berbeda, atau kontribusi terhadap budaya dan komunitas.
C. Pendekatan PR yang Terarah
Relasi dengan jurnalis dan editor menjadi kunci. Media pitch yang personal, data yang kuat, serta visual yang menarik meningkatkan peluang diliput.
D. Konsistensi Narasi Brand
Media akan lebih mudah mengangkat brand yang memiliki identitas kuat dan konsisten, baik dari sisi visual, tone, maupun positioning.
Value Liputan Media Secara Organik
Di tengah maraknya paid media, liputan organik tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan:
Authenticity (Keaslian)
Liputan organik dipersepsikan lebih jujur karena tidak dibayar. Ini meningkatkan trust secara signifikan.
Dampak Jangka Panjang
Artikel di media besar memiliki umur panjang, sering muncul di hasil pencarian dan referensi wisata bertahun-tahun setelah publikasi.
SEO dan Keterjangkauan
Backlink dari media global meningkatkan otoritas digital brand, membuatnya lebih mudah ditemukan oleh audiens internasional.
Efisiensi Biaya dalam Jangka Panjang
Meski membutuhkan investasi di strategi PR, hasilnya sering kali jauh lebih bernilai dibandingkan campaign berbayar jangka pendek.
Baca juga: Strategi Branding Hotel Tugu Malang: Dari Warisan Budaya hingga Pengalaman Penuh Cerita
Inilah yang membuat brand mereka “media-friendly”. Ketika jurnalis mencari cerita unik dari Indonesia, House of Tugu sudah memiliki narasi yang siap diangkat.
Kesimpulan
Liputan media asing bukan hanya soal eksposur, melainkan juga tentang membangun persepsi global yang kredibel dan berkelanjutan.
Brand yang mampu mengemas cerita kuat, relevan, dan autentik memiliki peluang besar untuk dilirik media internasional.
Seperti yang ditunjukkan oleh House of Tugu Jakarta, ketika storytelling, positioning, dan pengalaman brand selaras, liputan media asing bukan lagi sesuatu yang sulit dicapai, melainkan konsekuensi alami dari strategi yang tepat.
Ingin brand Anda diliput media internasional seperti TIME, Forbes, atau Condé Nast Traveler? Tim Radvoice siap membantu Anda merancang storytelling dan strategi PR yang tepat untuk mendapatkan exposure global yang kredibel.
