Beberapa dari Anda, khususnya para pekerja kantoran mungkin pernah mendengar istilah seperti“Izin jump in, bu” atau “bandwidth saya sudah full nih.”
Bagi sebagian orang, penggunaan bahasa ini terasa efisien dan mencerminkan cara kerja yang cepat. Namun bagi sebagian lainnya, gaya komunikasi tersebut bisa jadi dianggap terlalu santai, atau mungkin dinilai kurang pantas untuk lingkungan profesional.
Apakah bahasa korporat memang sedang “menurun” standar kesopanannya? Atau justru kita sedang menyaksikan perubahan cara berkomunikasi di dunia kerja?
Untuk membaca fenomena ini, RadVoice Indonesia berbincang dengan Annisa Arum Mayang, Dosen Antropologi Budaya, Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung.
“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya seseorang.”
Dari kacamata antropologi, Annisa melihat bahasa korporat bukan sekadar soal pilihan kata, melainkan cerminan dari perubahan budaya kerja yang lebih luas.
Baca juga: Perjalanan Beralih Karier: Dari Jurnalis ke Pencipta Pesan untuk Komunikasi Korporat
Bahasa Kerja yang Lebih Cair: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Menurut Annisa, apa yang sering disebut sebagai “bahasa santai di kantor” sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai bahasa kerja yang semakin cair. Bahasa ini muncul seiring berubahnya ritme kerja, struktur organisasi, dan komposisi generasi di tempat kerja.
“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga identitas budaya seseorang,” jelas Annisa.
Dalam lingkungan kerja urban yang semakin beragam, bahasa berkembang mengikuti kebutuhan penggunanya, baik untuk membangun relasi, mempercepat koordinasi, maupun menciptakan rasa kebersamaan.
Istilah-istilah berbahasa Inggris yang kini lazim digunakan di kantor pada dasarnya adalah jargon profesional. Namun ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari, tanpa jarak hierarki yang kaku, bahasa tersebut kerap dipersepsikan sebagai lebih santai.
Di sinilah sering muncul kesalahpahaman: bukan karena katanya salah, tetapi karena konteksnya dibaca berbeda.
Baca juga: Mengapa Nada Bicara dalam Komunikasi Interpersonal Lebih Penting dari Isi Pesan
Profesionalisme Tidak Selalu Berarti Formal
Dalam pengamatan Annisa, profesionalisme sering dipahami secara tunggal, identik dengan bahasa formal, pilihan kata baku, dan jarak komunikasi yang tegas.
Akibatnya, setiap perubahan gaya berbahasa kerap langsung diasosiasikan dengan penurunan etika kerja.
“Yang terjadi saat ini adalah gaya komunikasi sehari-hari masuk ke ruang kerja, sehingga bahasa informal dalam suasana formal seperti sudah menjadi normal. Hal ini sah-sah saja. Tetapi seringkali menjadi konflik dengan rekan kerja jika rekan kerja tersebut berasal dari beda generasi.”

Dari sudut pandang antropologi, profesionalisme tidak berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh kesepakatan sosial dan budaya tempat nilai itu dijalankan.
Apa yang dianggap profesional di satu organisasi, belum tentu berlaku sama di organisasi lain.
Annisa menjelaskan bahwa budaya terbentuk dari praktik yang dilakukan secara berulang dan kemudian dianggap wajar. Sementara itu, tren bersifat lebih sementara, ia bisa muncul, menyebar, lalu menghilang.
Dalam konteks ini, bahasa kerja yang lebih cair masih berada di wilayah transisi.
Wajar jika sebagian orang sudah menerimanya sebagai hal normal, sementara sebagian lain masih merasa asing atau kurang nyaman dan menekankan pentingnya kaidah bahasa dalam sebuah komunikasi.
Baca juga: Pengalaman Aini Putri Wulandari Menjaga Reputasi Negara lewat Komunikasi Diplomatik
Perbedaan Cara Memaknai “Sopan”
Masuknya budaya digital ke dunia kerja menjadi salah satu faktor utama berubahnya cara orang berkomunikasi di kantor.
Generasi yang tumbuh bersama media sosial dan komunikasi instan terbiasa berbicara secara cepat, langsung, dan minim formalitas. Pola ini kemudian terbawa ke ruang kerja.
Masalah muncul ketika bahasa kerja yang lebih cair ini digunakan lintas generasi dan posisi. Apa yang terasa efisien dan akrab bagi satu kelompok, belum tentu dibaca sebagai pantas oleh kelompok lain.
“Generasi yang lebih senior cenderung mengaitkan formalitas bahasa dengan profesionalisme. Sementara generasi muda sering memisahkan gaya berbicara dari kualitas kerja,” ujar Annisa.
Perbedaan cara memaknai sopan santun inilah yang kerap memicu gesekan. Bahasa yang dimaksudkan untuk mencairkan suasana justru bisa diterima sebagai sikap kurang menghormati, terutama jika digunakan tanpa mempertimbangkan relasi dan konteks.
Annisa juga menekankan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat menyampaikan pesan, tetapi juga sebagai strategi sosial.
Bahasa kerja yang lebih cair sering efektif ketika digunakan di antara rekan kerja yang setara, baik dari sisi usia, jabatan, maupun budaya komunikasi.

Namun, ketika perbedaan konteks tidak dibaca dengan baik, bahasa yang sama justru berpotensi menimbulkan konflik.
Keberhasilan komunikasi, menurut Annisa, tidak hanya ditentukan oleh niat baik, tetapi juga oleh kemampuan membaca situasi: siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam konteks apa, dan dengan dampak seperti apa.
Dengan kata lain, bahasa yang terasa tepat di satu ruang bisa menjadi masalah di ruang lain.
Baca juga: Menulis Karya Seni bagi Tia Agnes: Dari ‘Kanvas Kosong’ hingga Tulisan yang Hidup
Apa Artinya bagi Dunia Profesional?
Melalui kacamata antropologi, Annisa melihat bahwa perubahan bahasa korporat menunjukkan adanya negosiasi nilai yang terus berlangsung di ruang kerja modern.
Setiap generasi membawa pengalaman dan “zamannya” sendiri, lalu bertemu dalam satu lingkungan profesional yang sama.
Karena itu, alih-alih mempertentangkan mana yang benar dan mana yang salah, organisasi perlu secara sadar membangun kesepakatan komunikasi di internalnya.
Kejelasan tentang kapan bahasa informal bisa digunakan, dan kapan formalitas tetap dibutuhkan, menjadi bagian dari manajemen komunikasi yang sehat.

“Bahasa lebih dari alat komunikasi. Merubah bahasa sama halnya dengan merubah kerangka berpikir, dan juga proses kultural yang membentuk cara manusia bekerja, menilai diri dan menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar.”
Bagi dunia profesional, termasuk praktisi PR, pemahaman terhadap audiens, konteks, dan dinamika budaya menjadi kunci agar komunikasi tidak hanya terdengar tepat, tetapi juga diterima dengan tepat.