Sebagai orang yang suka menulis, terutama personal essay, saya sering bingung harus menaruh tulisan-tulisan saya di mana.
Apalagi sebagai orang awam yang waktu itu masih minim pengalaman menulis, saya sering merasa malu dan cringe untuk mempublikasikan personal essay yang selama ini hanya tersimpan di Google Docs.
Semua itu berubah di awal 2025, saat saya sedang scroll TikTok dan menemukan sebuah postingan bertuliskan “What I read on Substack this week.”
Postingan carousel itu menampilkan berbagai personal essay dengan topik yang menurut saya sangat menarik. Ada yang membahas pop culture, self-improvement, hingga op-ed dengan topik filosofis.
Dari situ, saya mulai tertarik dengan Substack dan akhirnya membuat akun sendiri. Tujuan saya adalah ingin belajar mengasah tulisan lewat proses iterasi, sekaligus mencari dan memahami diri sendiri melalui tulisan.
Baca juga: Menulis Opini di Media: Tujuan, Manfaat, dan Tips Agar Tulisan Dimuat
Apa Itu Substack?

Substack adalah platform media yang menghubungkan pembaca dengan kreator, ide, dan komunitas yang mereka pedulikan.
Dikutip dari Substack, platform ini menjadi rumah bagi berbagai karya, mulai dari tulisan, podcast, hingga video, yang membahas topik beragam seperti politik, pop culture, makanan, filsafat, teknologi, dan travel.
Melalui Substack, pembaca bisa menemukan perspektif dari kreator dengan latar belakang dan sudut pandang yang beragam.
Bagi saya, Substack merupakan platform yang cukup lengkap. Substack menggabungkan berbagai fungsi media sosial dalam satu aplikasi.
Pengguna bisa menonton video pendek seperti di TikTok, melihat feed layaknya di X atau Instagram, hingga menikmati video berdurasi panjang seperti di YouTube.
Perbedaannya, Substack juga memberi ruang untuk mempublikasikan tulisan, layaknya media berita atau publikasi editorial seperti The New York Times atau CNN.
Baca juga: 5 Tips Menulis Artikel Fashion, Wajib Ikuti Tren!
Substack dan Ruang bagi Gen Z
Sebagai Gen Z, saya juga melihat bahwa Substack tidak hanya saya isi sendirian. Banyak penulis Gen Z lain yang menggunakan platform ini untuk menulis personal essay, refleksi hidup, hingga opini tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka.
Lewat Substack, saya bisa membaca tulisan penulis Gen Z dari berbagai negara, saling bertukar komentar, dan membangun koneksi yang terasa lebih organik dibanding sekadar follow di media sosial.
Ini juga tercermin dalam data yang menunjukkan bahwa Substack banyak menarik pengguna Gen Z.
Dikutip dari Gen-Zine, platform ini dikenal mampu mendorong pembacanya untuk memperluas rasa ingin tahu intelektual, sekaligus merangkul proses membaca dan menulis sebagai praktik reflektif.
Sekitar 35,75% pengguna Substack berada di rentang usia 18 hingga 34 tahun. Berbeda dengan media sosial seperti Instagram yang kerap menekan Gen Z untuk menampilkan versi diri yang serba sempurna secara visual, Substack justru memberi ruang bagi penggunanya untuk berbagi perspektif autentik, tidak hanya lewat foto, tetapi lewat kata-kata.
Baca juga: 10 Rahasia Menulis Konten yang Menginspirasi Pembaca
Apa yang Saya Pelajari dari Substack

dan mulai lebih berani.
Setelah satu tahun menulis di Substack, saya merasa ada banyak hal yang saya dapatkan dari platform ini. Mungkin juga untuk orang-orang yang suka menulis tetapi tidak tahu harus menaruh tulisannya di mana, Substack bisa menjadi ruang yang relevan.
Berikut beberapa hal yang saya pelajari sebagai pengguna Substack.
1. Menulis tidak harus sempurna
Saat pertama kali menulis di Substack, saya sering menghapus draft karena merasa tulisan saya jelek dan berantakan untuk dibaca orang lain. Saya sempat berpikir bahwa esai harus terasa sempurna agar layak dipublikasikan.
Namun, dari situ saya mulai mempertanyakan kembali alasan saya menulis: apakah untuk kesenangan kreatif, atau sekadar mengejar validasi pembaca.
Seiring waktu, saya menyadari bahwa dorongan untuk terlihat sempurna justru menjauhkan saya dari proses menulis itu sendiri.
Pembaca datang bukan karena tulisan, tetapi karena apa mereka bisa relate atau tidak. Tulisan yang jujur dan personal sering kali lebih mudah membangun koneksi, meskipun tidak selalu dibaca banyak orang.
2. Menjadi diri sendiri, bukan mengikuti tren
Di awal menggunakan Substack, saya sempat tergoda untuk mengikuti tren tulisan yang sedang populer di platform tersebut.
Saya menulis topik-topik yang sedang ramai, meski sebenarnya tidak sepenuhnya mencerminkan apa yang ingin saya bicarakan. Lama-lama, saya merasa tulisan saya kehilangan arah dan terasa tidak autentik.
Dari situ saya belajar bahwa menulis tentang hal yang benar-benar dekat dengan diri sendiri, sekaligus menemukan niche pribadi, justru membuat tulisan terasa lebih jujur dan konsisten.
3. Menemukan ritme menulis sendiri
Substack mengajarkan saya bahwa konsistensi tidak selalu berarti menulis secara rutin atau terjadwal. Ada fase ketika saya menulis cukup sering, ada juga masa di mana saya berhenti sejenak karena tidak punya hal yang ingin dituliskan.
Berbeda dengan platform lain yang terasa sering mendorong produktivitas, Substack memberi ruang untuk menulis mengikuti ritme pribadi.
Dari situ saya belajar bahwa jeda bukan berarti gagal, dan tidak menulis dalam periode tertentu bukan berarti kehilangan identitas sebagai penulis. Justru dengan memberi waktu pada diri sendiri, saya bisa kembali menulis dengan niat yang lebih jujur dan reflektif.
4. Pembaca sedikit tidak selalu berarti gagal
Menulis di Substack mengajarkan saya bahwa tidak semua tulisan akan dibaca banyak orang. Ada tulisan yang hanya dibaca beberapa orang, tetapi justru mendapat respons yang paling tulus.
Dari situ saya belajar bahwa pembaca yang sedikit namun benar-benar relate lebih berarti daripada banyak pembaca yang hanya sekedar.
Rasanya berbeda ketika tulisan dibaca oleh orang-orang yang benar-benar mengerti apa yang saya tulis, karena di situlah fungsi personal essay terasa. Bukan untuk menjangkau semua orang, tetapi untuk menemukan mereka yang membutuhkan cerita itu.
Jika Anda suka menulis dan ingin mempublikasikan tulisan Anda, Substack bisa menjadi ruang yang layak dicoba.
Bagi saya, tanpa Substack, mungkin saya tidak akan menjadi content writer di Radvoice seperti sekarang, sekaligus tidak benar-benar memahami apakah menulis adalah sesuatu yang ingin saya tekuni.
Lewat Substack, saya mulai melihat di mana minat saya berada dan jenis tulisan apa yang paling ingin saya kembangkan.