Peran Komunikasi Publik bagi Antariksa Akhmadi sebagai Pustakawan di Era Digital

Di balik meja layanan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Antariksa Akhmadi, hampir setiap hari berhadapan dengan pertanyaan yang tidak selalu sederhana. 

Ada mahasiswa yang datang dengan tugas kuliah dan kata kunci terlalu umum. Ada peneliti yang sudah tahu apa yang dicari, tetapi tidak yakin di mana menemukannya. 

Semua kebutuhan itu berujung pada satu hal: bagaimana menemukan informasi yang tepat, bukan sekadar cepat.

Saat ini, Antariksa bertugas di bidang layanan bimbingan pemustaka dan literasi informasi Perpusnas RI yang berlokasi di DKI Jakarta, serta berhadapan langsung dengan pemustaka untuk menerima dan menanggapi berbagai pertanyaan.

Kepada RadVoice Indonesia, Antariksa bercerita tentang keseharian pustakawan di Perpustakaan Nasional, tantangan melayani ribuan pemustaka, serta bagaimana peran perpustakaan publik terus berkembang di era digital.

Dari Meja Layanan ke Ruang Dialog

Antariksa bertugas di bidang layanan bimbingan pemustaka dan literasi informasi Perpusnas RI yang berlokasi di DKI Jakarta (Semua foto oleh Antariksa Akhmadi)

Dalam kesehariannya, Antariksa membantu pemustaka dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga peneliti dalam mencari informasi secara efisien dan tepat sasaran.

“Misalnya ada mahasiswa S1 yang mendapat tugas membuat makalah tentang COVID-19. Ketika kata kunci tersebut dimasukkan ke dalam katalog, hasilnya sering kali terlalu umum. Tugas kami sebagai pustakawan adalah menggali lebih jauh apa yang sebenarnya dibutuhkan,” ujar Antariksa.

Menurutnya, proses itu tidak bisa dilakukan secara instan. Pustakawan perlu berdialog dengan pemustaka, mengajukan pertanyaan lanjutan, lalu menyesuaikan kebutuhan tersebut dengan koleksi yang tersedia. 

Proses ini dikenal sebagai wawancara referensi, sebuah tahapan penting yang sering tidak disadari oleh pemustaka.

Tidak semua pemustaka berada di level yang sama. 

Selain mahasiswa, Perpustakaan Nasional juga didatangi peneliti, akademisi, dan profesional yang sudah memahami bidang keilmuannya. Mereka biasanya datang dengan kebutuhan informasi yang sangat spesifik dan menuntut ketelitian lebih tinggi.

Antariksa menilai, masih banyak masyarakat yang melihat pustakawan sebatas penjaga buku. Padahal, fungsi pustakawan justru terletak pada kemampuan membantu pemustaka menavigasi informasi yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketika Informasi Mudah Mengalahkan Informasi Benar

Menurut Antariksa, tantangan terbesar perpustakaan saat ini bukan hanya soal jumlah pemustaka, tetapi pola pencarian informasi masyarakat. Berdasarkan berbagai riset yang ia pelajari, banyak orang cenderung mencari informasi yang paling mudah diakses, bukan yang paling akurat.

Akibatnya, proses verifikasi sering dilewatkan. Informasi diterima begitu saja tanpa penelusuran lebih lanjut, yang berpotensi memicu misinformasi.

“Informasi di Perpustakaan Nasional lebih terjamin dibandingkan media sosial,” katanya. 

Ia menyinggung anggapan lama bahwa mesin pencari akan menggantikan peran pustakawan. Prediksi itu, menurutnya, tidak sepenuhnya terbukti.

“Google sempat diramalkan akan menggantikan peran pustakawan. Namun, hingga saat ini pustakawan tetap dibutuhkan,” ujarnya.

Saat AI Masuk ke Proses Pencarian Informasi

Kemunculan artificial intelligence (AI) menambah lapisan baru dalam tantangan pencarian informasi. Antariksa menyebut AI bukan hanya alat bantu, tetapi juga sumber masalah baru jika digunakan tanpa verifikasi.

“Ternyata AI juga menimbulkan permasalahan baru,” katanya.

Antariksa (kedua dari kanan) pernah menemukan pemustaka yang menemukan judul buku dari ChatGPT

Ia menceritakan pengalamannya ketika seorang pemustaka meminta bantuan untuk mencari sebuah buku. Setelah ditelusuri melalui katalog Perpustakaan Nasional, mesin pencari, dan sumber lain, buku tersebut tidak ditemukan.

“Waktu ditanya, ternyata judul buku itu didapat dari ChatGPT,” kata Antariksa.

Kasus seperti ini, menurutnya, menunjukkan risiko halusinasi AI. Judul, nama penulis, atau sumber bisa terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak pernah ada.

Di sinilah peran manusia tetap krusial. Interaksi langsung dengan pustakawan membantu pemustaka memverifikasi informasi dan memahami konteks sumber yang mereka gunakan.

Kesimpulan

Di tengah derasnya arus informasi digital, Perpustakaan Nasional tetap memegang peran penting sebagai penjaga kualitas pengetahuan. 

Lebih dari sekadar tempat menyimpan buku, perpustakaan menjadi ruang dialog antara pemustaka dan pustakawan untuk memastikan informasi yang dicari relevan, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Melalui keahlian pustakawan seperti Antariksa, Perpusnas RI menunjukkan bahwa di era internet dan kecerdasan buatan, kehadiran manusia tetap tak tergantikan dalam membantu masyarakat menavigasi informasi secara kritis.

Wawancara dengan Antariksa Akhmadi dilakukan pada Jumat, 5 Desember 2025. Percakapan ini telah diedit agar lebih ringkas.

Let's Amplify Your Voice Together

Tell us about your project, and we will get back to you within one business day.

Contact Us!
Contact Us!
RadVoice Indonesia
Hello
Can we help you?